Minggu, 03 Januari 2010

bimbingan koseling

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Berawal dari tahun 1993, penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah telah menerapkan suatu bentuk perubahan yang melengkapi dan menyempurnakan dari penerapan layanan sebelumnya, yang lebih dikenal dengan istilah BK Pola-17. Perubahanitu menyentuh kepada arah dan bidang, jenis layanan dan kegiatan, serta substansi pelayanan BK di jajaran pendidikan menengah. Kemudian seitring perkembangan waktu, BK Pola-17 berkembang lagi menjadi BK Pola-17 Plus. Perkembangan inipun memberikan suatu perubahan yang lebih melengkapi dari cakupan-cakupan sebelumnya, yang lebih mengacu pada sasaran pelayanan yang lebih luas, sehingga menyentuh peserta didik di perguruan tinggi dan warga masyarakat luas.

Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan semacam bantuan yang diberikan kepada siswa dalam mengentaskan masalah yang ia hadapi selama mengikuti proses belajar mengajar. Masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tersebut sangatlah beraneka ragam bentuknya, dan selaku guru pembimbing harus mampu membantu siswa tersebut untuk keluar dari permasalahan yang ia hadapi, tentunya dengan pelayanan bimbingan dan konseling. Dengan pelayanan konseling tersebut akan terlihat gambaran-gambaran dari masalah yang dihadapi oleh siswa yang bersangkutan , tentunya dengan teknik-teknik tertentu yang digunakan oleh konselor dalm mengungkap gambaran masalah yang dirasakan oleh kliennya itu (siswa).

Berbagai bentuk rangkaian kegiatan dapat dilaksanakan dalam usaha pengentasan masalah klien (siswa) termasuk sembilan jenis layanan yang ada di dalam layanan BK. Karena data –data yang diperoleh oleh konselor dalam layanan konseling belum tentu sempurna (lengkap). Maka untuk melengkapi dari data-data dari gambaran permasalahan klien itu diperlukan sebuah kegitan dalam dalam pelayan bimbingan dan konseling yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Sejalan dengan namanya kegiatan pendukung, memiliki arti bahwa kegiatan pendukung sifatnya membantu untuk kesempurnaan dari pelayanan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh seorang konselor terhadap kliennya

Dengan pelaksanaan rangkaian kegiatan pendukung BK, ini akan diperoleh berbagai bentuk data yang belum terungkap oleh seorang konselor ketika memberikan layanan konseling kepada kliennya, dengan bantuan data –data yang diperoleh dari kegiatan pendukung ini tentunya akan mampu memaksimalkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada klien, sehingga diharapkan permasalahan yang dihadapi oleh klien dapat dientaskan, sehingga klien dapat kembali kepada posisi hidup yang KES (Kehidupan Efektif Sehari) dan pada akhirnya arah penyelesaian akan mampu untuk membantu klien lepas dari KES-T dan membangun kemandirian di dalam diri klien itu sendiri.

  1. Tujuan Penulisan

Beberapa tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penulisan laporan ini, diantaranya:

1. Memenuhi tugas akhir pada mata kuliah Kegiatan Pendukung Layanan Bimbingan dan Konseling.

2. Mengumpulkan dan menghimpun data-data dalam aplikasi instrumentasi seperti Sosiometri, FKPMP, AUM-UMUM dan AUM-PTSDL.

3. Menganalisa dan merencanakan bentuk kegiatan tindak lanjut terhadap hasil kegiatan aplikasi istrumentasi tersebut.

4. Melatih kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan rangkaian kegiatan pendukung BK di sekolah dan melatih berkomunikasi dengan pihak-pihak yang terkait dari kegiatan ini , terutama pihak di lingkungan sekolah tempat penulis melakukan kegiatan pendukung ini.

  1. Ruang Lingkup Penulisan

Adapun dalam laporan penulisan ini yang menjadi ruang lingkup penulisan adalah:

1. Melakukan analisis dan menarik kesimpulan dari masing-masing hasil dari rangkaian Kegiatan Pendukung BK di sekolah ini.

2. Gambaran dari Skenario penginformasian dan penyampaian hasil dari rangkaian Kegiatan Pendukung BK.

3. Merencanakan Tindak Lanjut atau bantuan dari hasil rangkaian Kegiatan Pendukung BK.

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. Pengertian Kegiatan Pendukung

Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995).

Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.

Bimbingan dan konseling bukanlah kegiatan pembelajaran dalam konteks adegan mengajar yang layaknya dilakukan guru sebagai pembelajaran bidang studi, melainkan layanan ahli dalam konteks memandirikan peserta didik. (Naskah Akademik ABKIN, Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, 2007).

Merujuk pada UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebutan untuk guru pembimbing dimantapkan menjadi ’Konselor.” Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal 1 ayat 6). Pengakuan secara eksplisit dan kesejajaran posisi antara tenaga pendidik satu dengan yang lainnya tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor, memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan setting layanan spesifik yang mengandung keunikan dan perbedaan.

Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum, undang-undang atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).

Dalam konteks tersebut, hasil studi lapangan (2007) menunjukkan bahwa layanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah sangat dibutuhkan, karena banyaknya masalah peserta didik di Sekolah/Madrasah, besarnya kebutuhan peserta didik akan pengarahan diri dalam memilih dan mengambil keputusan, perlunya aturan yang memayungi layanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, serta perbaikan tata kerja baik dalam aspek ketenagaan maupun manajemen.

Layanan bimbingan dan konseling diharapkan membantu peserta didik dalam pengenalan diri, pengenalan lingkungan dan pengambilan keputusan, serta memberikan arahan terhadap perkembangan peserta didik; tidak hanya untuk peserta didik yang bermasalah tetapi untuk seluruh peserta didik. Layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas pada peserta didik tertentu atau yang perlu ‘dipanggil’ saja”, melainkan untuk seluruh peserta didik.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, sejak tahun 1993 bimbingan konseling disekolah memperoleh perbendaharan istilah baru, yaitu BK Pola-17. Istilah ini memberikan warna tersendiri bagi arah dan bidang, jenis layanan dan kegiatan pendukung dari pelayanan bimbingan konseling itu sendiri. Seiring dengan mulai menggelindingnya abad ke-21, BK pola -17 itu berkembang menjadi BK Pola-17 Plus, terutama apabila kegiatan BK mengacu kapada sasaran pelayanan yang lebih luas, sehingga mencangkup peserta didik dipergururn tinggi dan warga masyarakat luas. Salah satu bagian dari BK Pola 17 Plus tersebut adalah kegiatan pendukung. Kegiatan Pendukung merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh Guru Pembimbing dalam rangka melengkapi data-data dan memperoleh keterangan dari klien demi memaksimalkan pelayaan bimbingan dan konseling kepada siswa.

Seiring dengan itu, pada Tahun 2003 terpancang momentm yang sangat signifikan dalam pengembanagan profesi BK, yaitu pertama, diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang didalamnya disebutkan bahawa Konselor merupakan salah satu jenis tenaga pendidik sebagaimana guru, dosen, dan tenaga pendidik lainya. Kedua, dikeluarkannya naskah Dasar Standardisasi Profesi Konseling oleh Deroktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Tahun 2003. Kedua momentum itu mengukuhkan keberadaan dan pengembangan profesi konseling. Terutama dalam melakukan Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling.

Untuk ketercapaian keberhasilan pelaksanaan pemberian layanan tersebut maka seorang guru pembimbing perlu melaksanakan suatu rangkaian kegiatan yang disebut Kegiatan Pendukung.

Adapun penjelasan mengenai kegiatan pendukung tersebut adalah sebagai berikut:

1. APLIKASI INSTRUMENTASI (P1)

Aplikasi Instrumentasi adalah upaya pegungkapan melalui pengukuran dengan memakai alat ukur atau instrument tertentu. Hasil aplikasi ditafsirkan, disikapi dan digunakan untuk memberikan perlakuan terhadap klien dalam bentuk layanan konseling.

B.

2. HIMPUNAN DATA

Himpunan Data merupakan gambaran atau keterangan maupun catatan tentang ada dan keadaan sesuatu.

3. KONFERENSI KASUS

Merupakan forum terbatas yang diupayakan oleh konselor untuk membahas suatu kasus dan arah-arah penanggulangannya.

4. KUNJUNGAN RUMAH

Kunjungan Rumah merupakan upaya untuk mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan anak atau individu yang menjadi tanggung jawab konselor dalam pelayanan konseling.

5. TAMPILAN KEPUSTAKAAN

Tampilan Kepustakaan membantu klien dalam memperkaya dan memperkuat diri berkenaan dengan permasalahan yang dialami dan dbahs bersama konselor pada khususnya, dan dalam pengembangan diri pada umunya.

6. ALIH TANGAN KASUS

Alih Tangan Kasus adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk diperolehnya pelayanan yang optimal, setuntas mungkin, atas masalah yang dialami oleh klien dengan penanganan yang tepat oleh ahli yang tepat.

  1. Tujuan Kegiatan Pendukung

Tujuan kegiatan pendukung ini diantaranya diperolehnya data-data atau keterangan yang berkenaan dengan klien, dengan data tersebut menjadi landasan bagi konselor atau guru pembimbing untuk melakukan pelayanan bimbingan dan konseling.

1. Tujuan dilakukannya kegiatan pendukung bagi mahasiswa:

a. Menghimpun data-data dalam melakukan kegiatan pendukung.

b. Melatih kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan rangkaian kegiatan pendukung dan melatih diri dalam menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain.

c. Dengan kegiatan pendukung mahasiswa memperoleh gambaran dari keadaan peserta didik yang ia bimbing, sehingga dengan gambaran permasalahan tersebut mahasiswa mampu merencanakan berbagai macam bentuk tindak lanjut ataupun memberikan layanan sesuai dengan gambaran masalah tersebut

2. Tujuan dilakukannya kegiatan pendukung bagi siswa:

a. Melalui kegiatan pendukung ini siswa terbantu dalam mengungkapkan permasalahnya yang ia hadapi dalam proses belajar dan menjalani kehidupan yang mungkin tidak terungkapkan secara lisan.

b. Melaui kegiatan pendukung ini siswa memperoleh gambaran tentang kondisi dirinya melalui kegiatan sosiometri, AUM-UMUM dan AUM-PTSDL.

c. Dengan diperolehnya gambaran mengenai permasalahan tersebut siswa diharapkan untuk memanfaatkan pelayanan bimbingan dan konseling dalam mengentaskan permasalahan yang dialami tersebut.

3. Tujuan dilakukannya kegiatan pendukung bagi guru.

a. Guru dapat melihat gambaran kondisi diri dan permasalahan dari peserta didiknya sendiri, sehingga diharapkan guru mampu menyikapi dan mengambil tindakan tepat terhadap kondisi dan juga permasalahan peserta didiknya.

b. Melalui kegiatan pendukung ini, guru dapat melakukan evaluasi untuk meninjau tingkat keberhasilan dari kegiatan belajar mengajar yang telah dilakukan selama ini.

c. Guru juga dapat turut serta dan mnemiliki peranan yang penting terhadap pengentasan dari permasalahan dari peserta didiknya dengan menjalin kerjasama dengan guru pembimbing.

d. Tujuan dilakukannya kegiatan pendukung BK bagi guru pembimbing:

a. Guru pembimbing memperoleh gambaran dari kondisi diri dan permasalahan yang dialami oleh peserta didik.

b. Dengan diperolehnya gambaran dari kondisi diri dan juga permasalahan tersebut guru pembimbing dapat merencanakan rangkaian usaha tindak lanjut yang tepat untuk berusaha memberikan bantuan dab layanan dalam mengentaskan permasalahan dari peserta didik tersebut.

c. Guru pembimbing dapat memberikan rekomendasi khusus kepada wali kelas ataupun guru mata pelajaran untuk menjalin suatu kerjasama dalam mengentaskan permasalahan peserta didik.

4. Tujuan dilakukannya kegiatan pendukung bagi sekolah:

a. Membantu pihak sekolah dalam mencapai tujuan keberhasilan sekolah untuk ketercapaian visi dan juga misi dengan terentaskan permasalahan yang dialami oleh para siswa di sekolah tersebut.

b. Meninjau terhadap keberhasilan elemen sekolah dalam usaha membantu mengatasi permasalahan dari peserta didiknya.

BAB III

PROSEDUR DAN PELAKSANAAN KEGIATAN PENDUKUNG DI SEKOLAH

A. Menentukan Sekolah Tempat Pelaksanaan Kegiatan Pendukung.

Dalam pelaksanaan kegiatan pendukung ini, penulis bersama-sama teman satu anggota kelompok yang ditunjuk mengidentifikasi sekolah mana yang memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan pendukung ini, dengan pertimbangan bahwa disekolah tersebut ada guru pembimbing yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling. Dengan tujuan agar nantinya ketika pelaksanaan kegiatan pensukung ini dilaksanakan mampu guru tersebut membimbing dan mengarahkan jika seandainya penulis menemukan kesulitan.

Dengan pertimbangan yang seperti itu berdasarkan hasil musyawarah dengan teman-teman yang sama melakukan kegiatan pendukung ini,maka sekolah yang menjadi tempat penulis untuk melakukan kegiatan ini adalah SMA Negeri 5 BUKITTINGGI, dengan alasan bahwa sekolah ini memiliki guru pembimbing yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling dan juga lokasi sekolah ini tidak terlalu jauh dengan kampus tempat penulis mengembangan disiplin ilmu bimbingan dan konseling ini.

B. Mengaplikasikan Kegiatan Pendukung di satu Kelas.

Setelah penulis bersama-sama dengan teman untuk menentukan sekolah yang menjadi tempat untuk melakukan kegiatan ini, selanjutnya penulis bersama-sama dengan teman , maka pada tanggal 08-09-2009 penulis bersama-sama dengan teman yang lainnya menemui kepala sekolah untuk menjelaskan maksud dan tujuan dari kegiatan pendukung ini. Alhamdulillah kepala sekolah menerima kedatangan kami dan beliau memperkenalkan kami dengan guru pembimbing yang ada di sekolah tersebut. Sama dengan apa yang kami sampaikan kepada kepala sekolah berkenaan dengan maksud dan tujuan kedatangan kedatangan kami ke sekolah ini yaitu melakukan sebuah kegiatan pendukung dalam layanan bimbingan dan konseling. Guru pembimbing yang berlatar belakang pendidikan profesi konselor juga menerima kami, dan kami lansung berkoordinasi dengan guru pembimbing berkenaan dengan lokal mana yang akan kami tempati untuk melakukan kegiatan pendukung ini, berdasarkn hasil musyawarah diantara sesama guru pembimbing maka kelas XI IPS 1 yang menjadi lokal tempat bagi penulis umtuk melakukan kegiatan pendukung ini.

C. Perencanan kegiatan yang akan diberikan

Setelah penulis bersama-sama dengan guru pembimbing menentukan kelas yang akan dijadikan tempat untuk melakukan kegiatan pendukung, maka dalam hal ini penlis melakukan hal-hal apa yang akan dilakukan.Sebagaimana instruksi yang disampaikan oleh dosen pembibing dalam mata kuliah kegiatan pendukung. Maka rencana kegiatan yang akan diberikan kepada siswa , sesuai dengan materi-materi yang ada dalam kegiatan pendukung itu sendiri, yaitu aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, tampilan kepustakaan, dan alih tangan kasus. Semua ini merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan pendukung, namun ini semua disesuaikan dengan kebutuhan dari kepentingan penulis berkenaan dengan instruksi dari dosen pembimbing.

D. Pelaksanaan Bantuan.

Pelaksanaan bantuan bertitik tolak kepada perencanan yang telah ditentukan pada waktu sebelumnya, pelaksaanaan bantuan ini bertujuan untuk mengentaskan segala persoalan yang dialami oleh siswa dalam melakukan kegiatan belajar maupun kondisi yang dialami diluar sekolah.Pelaksananan bantuan ini berdasarkan layanan-layanan yang ada dalam bimbingan konseling, dengan berbagai macam layanan ini nantinya diharapkan segala permasalahan yang dialamioleh siswa dapet dientaskan maupun dapat diminimalisir kearah yang lebih baik bagi siswa.

Diantara pelaksanaan bantuan yang dapt dilakukan terhadaap siswa diantaranya, Layanan Informasi, Layanan Orientasi, Layanan Penempatan dan Penyaluran, Layanan Penguasan Konten, Layanan Konseling Perorangan, Layanan Bimbingan Kelompok, Layanan Konseling Kelompok, Layanan Konsultasi, dan Layanan Mediasi. Walaupun demikian layanan mana yang akana nantinya diberikan kepada siswa tergantung kepada gambaran masalah yang dihadapi oleh siswa yang akan memperoleh bantuan tersebut apakah dengan format klasikal, kelompok ataupun individual.

Dengan berbagai bentuk rangkaian kegiatan pendukung yang dilakukan maka setelah dilaksanakan pengolahan berdasarkan instruksi yang sejalan dengan tata cara pelaksanaan dari masing-masing kegiatan tersebut, prosedur pelaksanaan bantuan yang akan diberikan bertitik tolak dari hasil yang diperoleh. Dalam hal ini penulis berperan dalam hal membuat suatu rekomendasi perencanaan bantuan terhadap permasalahan dan fakta yang penulis ungkap dengan rangkaian kegiatan pendukung tersebut. Kemudian setelahnya perencanaan tersebut direkomendasikan kepada guru pembimbing sekolah untuk dapat ditindak lanjuti berdasarkan permasalahn yang ada dari masing-masing peserta didik lewat peran fungsionalnya sebagai guru pembimbing di sekolah tersebut. Hal ini dikarenakan penulis dalam pelaksanaannya hanya berperan untuk mengungkapkan permasalahan dan kondisi yang dihadapi oleh peserta didik dan membuat rekomendasi perencanaan kepada guru pembimbing di seklah berdasarkan kegiatan pendukung yang dilaksanakan.

E. Tindak Lanjut

Berdasarkan dari kegitan-kegiatan yang telah dilakukan, maka langkah selanjutnya yang dilakukan adalah tindak lanjut dari rekomendasi bantuan yang dapat dilakukan untuk pengentasan dan juga penanganan kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik. Tindak lanjut merupakan kegiatan lanjutan dari pelaksanaan bantuan yang telah diberikan kepada siswa. Dalam tindak lanjut ini diharapkan segala permasalahan yang belum terentaskan dalam bantuan tersebut dapat dientasakan, atau di sisi lain kegiatan lanjutan ini bertujuan untuk memperoleh data yang belum lengkap dalam upaya peningkatan bantuan pelayanan kepada siswa yang bersanakutan.

Dan bentuk tindak lanjut ini berupa Konferensi Kasus, Kunjungan Rumah, Tampilan Kepustakaan dan Alih Tangan Kasus. Aspek utama dalam masalah penanganan tindak lanjut ini yang diharapkan dilakukan oleh guru pembimbing adalah pemberian layanan yang tepat terhadap masalah yang dihadapi oleh peserta didik.

BAB IV

HASIL PENGOLAHAN INSTRUMEN DALAM KEGIATAN PENDUKUNG

A. Laporan Kegiatan Sosiometri.

1. Gambaran Pelaksanaan.

Pelaksanaan kegiatan sosiometri dilakukan dalam rangka mengetahui hubungan sosial diantara siswa dari aspek bermain dan belajar. Kegiatan pengadministrasian sosiometri memegang peranan penting dalam pengukuran dan pengungkapan fakta dan data tentang hubungan sosial dalam kelompok kelas XI IPS1 SMAN 5 BUKITTINGGI. Kegiatan ini dilakukan tanggal 08-09-2009, yang bertempat di lokas kelas XI IPS 1, dengan alokasi waktu 1x jam pertemuan ( lebih kurang 50 menit). Sebelum dilaksanakannya kegiatan sosiometri terlebih dahulu penulis menyampaikan atau menginformasikan mengenai sosiometri ini sendiri.

Bentuk sosiometri yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sosiometri bentuk nominatif, dalam tipe ini setiap siswa dalam satu kelompok ditanyai, siapa kawan atau teman yang disukai dalam hal belajar dan bermain . Pilihan tersebut ditulis secara berurutan dari pilihan pertama( paling disenangi), pilihan kedua dan pilihan ketiga. Kesemuanya ini nantinya diharapkan secara tepat mengungkap beberapa fakta mengenai hubungan sosial dari kelompok kelas ini yang akan menjadi dasar pembentukan bimbingan ataupun konseling kelompok maupun rangkaian kegiatan tindak lanjut seperti pembentukan kelompok belajar dan bentuk kegiatan penanganan lainnya.

2. Skenario Penginformasian Sosiometri.

“ Assalammualaikum Wr Wb…

Bagaimana kabar ananda semuanya, semoga senantiasa berada dalam keadaan sehat walafiat, dan sukses dalam melakukan aktifitas belajarnya.

Ananda semuanya, pada hari ini kita akan melakukan suatu kegiatan, yang namanya sosiometri, tujuan dari kegitan ini diantaranya mengetahui pola hubungan yang ada dalam kelas ini, kondisi itu akan tergambar secara umum melalui kegiatan sosiometri dengan adanya siswa yang menjadi bintang ,artinya siswa tersebut memiliki skor tertinggi dan disukai oleh banyak teman, kemudian akan terungkap juga beberapa teman yang saling memilih dan juga yang terisolir. Terisolir dalam artian bahwa siswa tersebut tidak dipilih dalam suat kelompok. Dan hal yang perlu untuk digaris bawahi, bahwa hasil dari sosiometri ini tidaklah mutlak atau tetap, melainkan akan senantiasa berubah, sesuai dengan bagaimana kondisi yang terjadi dalam kelas ini.

Bapak akan membagikan masing-masing kepada ananda format sosiometri ini, dan nantinya pada format tersebut ananda jangan lupa untuk mengisi identitas diri masing-masing, yang kedua ananda tuliskan tiga orang teman yang anda sukai ketika belajar dan ketika bermain. Teman yang dipilih tersebut harus berada di dalam kelas ini, setelah semua siswa megisi format tersebut, silahkan dikumpulkan, dan nantinya data yang terkumpul ini akan bapak olah. Bagaimana ananda semuanya, apa ada yang ingin ananda tanyakan ?”.

3. Analisis Hasil Sosiometri.

a. Dari aspek bermain.

Setelah data sosiometri tersebut diolah, maka dapat kami lakukan sebuah analisis dari hasil pengolahan dengan cara rekapitulasi, skor, rangking dan pembuatan sosiogram, maka dapat diperoleh gambaran seperti berikut :

I. Siswa yang berada pada posisi bintang.

Dari hasil pengolahan sosiometri, siswa yang menjadi bintang dalam kelas bersangkutan, artinya diantara siswa tersebut ada yang mendapat pilihan terbanyak dari teman-teman kelasnya, yaitu siswa yang bernomor 28 (wanita), dengan pemilih sebantak 7 orang yang bernomor 9,17,18,21,26,27,30. Bila kita skor maka siswa ini memperoleh skor 15. Artinya siswa tersebut disukai oleh banyak temannya dalam lingkup kelompok kelas ini.

II. Siswa yang saling memilih.

Ada siswa yang saling memilih dalam aspek bermain ini sangat komplek dan beragam, dikarenakan setiap siswa memilih tiga orang yang ia sukai dalam bermain, dan ini akan terlihat dalam halaman yang penulis lampirkan dalam laporan ini.

III. Siswa yang berada pada posisi terisolir.

Dari hasil pengolahan sosimetri terdapat dua siswa yang berada pada posisi terisolir yaitu siswa yang bernomor 16 (wanita) dan 21 (perempuan). Dari hasil tabulasi pengolahan sosiometri tersebut, dari jumlah siswa 36 orang, yang berada pada posisi terisolir hanya 2 orang siswa, dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa hubungan sosial diantara siswa dalam kelas ini baik.

b. Dari aspek belajar.

I. Siswa yang berada pada posisi bintang.

Dari hasil pengolahan hasil sosiometri dari aspek belajar, siswa yang berada pada posisi bintang adalah siswa yang bernomor 29 ( Laki-laki), yang mana ia dipilih sebanyak 10 orang siswa dalm kelasnya yaitu siswa yang bernomor 10, 16, 17, 19, 20, 21, 25, 26, 31,dan 32.. Bila kita sor maka siswa yang bernmor 29 ini memperoleh skor 18.

II. Siswa yang saling memilih.

Siswa yang saling memilih dalam aspek belajar ini sngat komplek dan beragam, dikarenakan satu siswa memilih tiga orang teman yang ia sukai dalam belajar, namun pada lampiran sosiogram nantinya akan terlihat gambaran siswa yang saling memilih tersebut, mulai dari pilihan pertama, kedua dan ketiga.

III. Siswa yang berada pada posisi terisolir.

Dari hasil pengolahan sosiometri, ada beberapa orang siswa yang berada pada posisi terisolir, yaitu siswa yang bernomor 6, 10, 17, 21, dan 31.

Dalam aspek belajar ini, ada lima orang siswa yang berada pada posisi terisolir dari 36 siswa yang ada dalam lokal tersebut. Bila dipersentasekan siswa yang berada pada posisi terisolir yaitu 13, 88 atau 14 persen dari jumlah siswa dalam kelompk kelas ini.

4. Bantuan / tindak lanjut hasil sosiometri

Ada beberapa bentuk langkah tindak lanjut yang dapat penulis rekomendasikan setelah dilakukannya kegiatan sosiometri dan analaisis terhadap hasilnya, maka langkah selanjutnya adalah merencanakan tindak lanjut dari hasil sosiometri tersebut. Data-data yang diperoleh dalam kegiatan sosiometri merupakan landasan untuk penetapan rencana bantuan yang akan diberikan.

Rekomendasi perencanaan bantuan ini diharapkan hendaknya mampu secara tepat memberikan penanganan terhadap kondisi dan permasalahan yang ada dalam skop data yang terungkap dari kegiatan sosiometri ini.

Adapun beberapa rencana pemberian bantuan dan layanan sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang terungkap dari kegiatan sosiometri, diantaranya:

a. Layanan Informasi.

Setelah dilaksanakan kegiatan pengadministrasian dan proses pengolahan hasil dari kegiatan sosiometri, hasilnya digunakan untuk memberikan informasi kepada siswa tentang bagaimana gambaran atau kondisi hubungan sosial dalam kelas XI IPS 1 tersebut, berupa :

- Diharapkan setelah mengetahui hasil dari kegiatan sosiometri ini, siswa memiliki suatu kesadaran dan wawasan tentang perlunya menjalain hubungan dengan sesama teman dalam satu kelas.

- Siswa mengetahui bagaimana gambaran hubunga sosial dalam kelas mereka dengan menyampaikansswayang berada pada posisi bintang salaing memilih dan siswa vyang terisolir tanpa menyebutkan nama sisiwa tersebut melainkan dengan memakai inisial yang hanya diketahui oleh guru pembimbing ( penulis ).

- Berdasarkan informasi tentang bebtuk atau gambaran hubungan sosildiantara siswa, maka hiharapkan siswa tergerak untuk memamfatkan pelayanan bimbingna konseling yang ada di sekolah.

- Siswa tang berada pada posisi terisolir diharapkan untuk membuka diri dengan berkonsultasi engan tenaga ahli yang tepat dan memiliki kapasitas keilmuan dalam memerrikan bimbngan kpada siswa, dalam halinni yaiitu guru pembmbing yang ada di sekolah.

Untuk mencapai tujian diatas , guru pemn\bimbing perlu memamprkan hasil dari sosiometri dengan jelas , luas, dan meranfgsang. Pemamparan tersebut perlu didahului dengan penjelasan tentang tujuan0tujuan yang akan dicapai, dan dalam penyampaian hasil sosiometri tersebut, sesekali tidak boleh menyebutkan nama sisiwa yang menjadi bitang, saling memilih maupun terisolir, hal ini merupakan upaya penegakan dari azas kerahasiaan.

b. Layanan konseling perorangan.

Layanan onseling peorangan diselengarakn selalu dalam format individual. Dalam pertemuan interpersonal yang sabagat intens itu dibicarakan semua kendala-kendala yang dihadapi alam memlakin hubungan sosil dengan teman lain baik dalam hal bermain maupun dalam belajar dapat dibicarakan. Layanan konseling perorangan siperuntukan untuk semua siswa, namun setelah melihat hasil dari pengolahan sosiometri, ternyata ada dua siswa yang berada pada posisi terisoir, maka seyogyanyalah siswa tersebut memamfaatkan layanan konseling perorngan, kalau seandainya siswa tersebut masih ragu atau enggan untuk berkonsultasi dengan guru pe bimbing, maka guru pembimbing perlu lagi memberikan papran atau penjelasan mengenai tujuan dari layanan konseling perorangan tersebut.

c. Berdasarkan hasil sosiometri tersebut giru pembimbing juga dpat brkomunakasi dengan siswa yang berada pada posisi bintang, agar siswa tersebut hendakanya mampu menjalin hubungan sosila denga teman yang lainnya, denagan cara mengajak siswa yang terisolir tersebut dalam kegiatan, apakah kegiatan belajar maupun dlam keitan bermain.

5. Dengan dilakukannya layanan atau tindak lanjut dari hasil dsosiometri, diperolhnya hasil atau mamfat dari sosiometri itu sendiri, diantaranya:

a. Untuk memperbaiki struktur hubungan sosial para sisiwa di dalam kelasnya.

b. Memperbaiki penyesuainan hubugan sosial siswa secara individual.

c. Mempelajari mutu kepemimpinan dalam situasi yang bermacam-macam.

d. Menemukan norma-norma pergaulan antarsiswa yang diinginkan dala kelompok.

B. Laporan Format Kesulitan Penguasaan Materi Pelajaran.

1. Gambaran Pelaksanaan.

Format Kesulitan Penguasan Materi Pelajaran yang disingkat dengan FKPMP, merupakan suatu format yang diberikan kepada siswa untuk mengetahui mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa , dengan data dari FKPMP ini guru pembimbng dapt menentukan layanan apa yang akan diberikan kepada siswa. Kegiatan ini sendiri dilaksanakan pada tanggal 13-09-2009, dan pada kegiatan in siswa yang tidak hadir adlah Fadhilah Rigano. Sebelum kegiatan ini dilakukan terlebih dahulu penulis menjelaskan tentang FKPMP, dalam bentuk penginformasian FKPMP.

2. Skenario Pengimformasian FKPMP.

“ Assalamualikum Wr.wb,

Selamat siang ananda semuanya, bagaimana kabarnya pada hari ini, semoga dalam keadaan sehat walafiat. Ananda semuanya pada kesempatan kali ini kta akan melakukan sebuak kegiatan yaitu Format Kesulitan Penguasaan Materi Pelajaran Yang disingkat dengan FKPMP. FKPMP merupakan suatu format untuk mengemukakan mata pelajatran apa saja yang kita anggap sulit selama mengikuti pelajaran di sekolah, nanti saya akan memberikan masing-masing format tersebut kepada ananda semuanya, dan nanti ananda sipersilahkan untuk menuliskan maksimal tiga buah mata pelajaran yang ananda anggap sulit dari sekian mata pelajaran yang anda pelajari selam semester ini, dan juga dalam format tersebut dituliskan pokok bahasabnapa yang anda anggap sulit beserta keterangannya atau alasannya, contoh mata prlajaran yang anda anggap sulit adalah , Antropologi dengan pokok bahasan Kebudayaan masa kuno (pra sejarah), alasannya banyak hafalan, buku penunjang kurang memadai dan gurunua terlalu cepat menerangkan pelajaran. Itu sebuah contoh.

Dan setelah ananda semua mengisi format tersebut, maka nantinya kami akan melakukan rekapitulasi dari hasil kegiatan kita pada hari ini, bagaimana ananda semuanya adayang belum dimengerti dari penjelasan dari saya barusan”.

3. Analisis Hasil FKPMP.

Dari kegiatan pengadministrasian FKPMP, Dari 12 mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa kelas XI IPS 1, berdasarkan hasil pengolahan FKPMP, terdapat tiga mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa yaitu mata pelajaran Bahasa Jepang, Ekonomi, dan Matematika. kemudian Bahasa Inggris, Muatan Lokal, Akuntansi, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Kewarganegaraan, Geografi, Sejarah, Bahasa Indonesia, dan Sosiologi.

a. Mata pelajaran Bahasa Jepang.

Berdasarkan pengadministrasian format FKPMP, ada 21 orang siswa dari 36 jumlah keseluruhan siswa menyatakan bahwa Bahasa Jepang merupakan mata pelajaran yang paling sulit selama mengikuti pelajaran pada semester ini, dengan rincian materi pelajaran, diantaranya:

- Tanggal, bulan dan hari.

- Kalimat gana dan hiragana.

- Pola dan cara menyusun kalimat.

- Huruf kanji.

- Translet bahasa indonesia ke bahasa jepang.

- Keterangan waktu.

- Materi tentang lingkungan sekolah.

Adapun alasan siswa yang menyatakan bahwa materi pelajaran ini sulit, diantaranya;

- Sulit menghafal huruf katagana dan hiragana.

- Kurang memahami materri yang disampaikan oleh guru.

- Guru terlalu cepat menerangkan.

- Kosa kata susah.

- Susah menghafal cara penulisan.

- Rumus sulit dipahami.

- Sulit membedakan huruf jepang karena sama.

- Kurang cepat dan kurang paham dalam membuat catatan.

b. Mata pelajaran Ekonomi.

Dari jumlah 36 siswa, ada 16 orang yang menyatakan bahwa mata pelajran Ekonomi merupakan mata pelajaran kedua tersulit sesudah Bahasa Jepang, meliputi materi pelajaran:

- Tenaga kerja dan pengangguran.

- Pembangunan dan ekonomi nasional.

- Pengeluaran dan pendapatan.

Adapun alasan siswa yang menyatakan bahwa mata pelajaran Ekonomii sulit bagi mereka, diantaranya:

- Tidak paham dengan materi.

- Materinya sulit.

- Tulisan guru kecil.

- Terlalu banyak peta konsep.

- Cara belajar yag monoton.

- Suara guru pelan.

- Guru mengajar kelihatan kurang bersemangat dan kurang bisa menerangkan materi.

c. Mata pelajaran Matematika.

Dari 36 orang siswa keseluruhan, 10 orang siswa menyatakan bahwa mata pelajaran Matematika sulit selama semester pertama ini, dan Matematika menduduki posisi ketiga yang tersulit setelah mata pelajaran Ekonomi.Adapun materinya, adalah:

- Rumus.

- Statiska.

- Frekuensi.

- Ukuran penyebaran data.

- Median.

- Diagram.

Siswa mengungkapkan alasannya, Yaitu:

- Tidak memperhatikan guru ketika menerangkan.

- Sulit memahami dan menghafal rumus.

- Guru terlalu cepat dan kurang jelas dalam menerangkan.

- Guru seolah-olah mengangap semua siswa sudah paham terhadap materi.

Berdasarkan rincian penjelasan di atas, terungkap tiga mata pelajaran yang diangap tersulit oleh siswa pada semester ini setelah dilakukannya rekapitulasi dari format FKPMP yang telah diisi oleh siswa pada waktu yang lalu. Dari gambaran hasil FKPMP tersebut , kami menganalisis bahwa dua faktor yang menyebabkan kesulitan bagi siswa dalam menguasai materi pelajaran pada semester ini adalah:

a. Pertama, faktor dari internal, maksudnya dari siswa itu sendiri, dengan rincian:

1. siswa kurang persiapan sebelum mengikuti mata pelajaran tersebut,

2. sarana pendukung belajar yang kurang mencukupi,

3. motivasi yang rendah,

4. posisi duduk yang kurang strategis dan lain sebagainya.

5. Berkaitan dengan aspek motivasi, siswa cenderung berpandangan negative dalam segi keinginan untuk belajar dalam memandang dan menghadapi materi pelajaran.

b. Kedua, faktor yang mempengaruhi kesulitan bagi siswa dalam menguasai mata pelajaran, adalah berkaitan dengan metode yang dipakai oleh guru bersangkutan kurang efektif, hal ini terlihat dari:

1. guru kurang menguasai masalah pengelolan kelas,

2. sikap guru yang cenderung belum mampu bersikap demokratif dalam menjalankan proses pembelajaran,

3. guru kurang memahami perkembangan peserta didik,

4. guru lebih mengutamakan aspek ketercapaian materi daripada aspek pemahaman materi oleh peserta didik.

4. Rencana Bantuan.

Dari pelaksanaan kegiatan FKPMP, sete;ah melalui pengolahan dan rekapitulasi, data-data yang diperoleh dari kegiatan FKPMP tersebut digunakan sebagai landasan bagi penulis untuk membuat suatu rekomendasi perencanaan bantuan dan bentuk bantuan yang tepat sesuai dengan data –data yang telah diperoleh tersebut. Penulis merekomendasikan rencana bantuan, adapun rencana tindak lanjut dari kegiatan FKPMP ini, diantaranya:

- Memberikan layanan informasi berkenaan dengan hasil kegiatan FKPMP tersebut, sehingga keseluruhan siswa mengetahui mata pelajaran apa yang tersulit beserta materi pelajarannya dan alasan para siswa menyatakan bahwa mata pelajaran tersebut dianggap sulit.

- Pemberian layanan penguasan konten bisa dilakukan untuk menindaklanjuti hasil FKPMP ini, dalam pemberian layanan ini perlu kiranya guru pembimbing, berdasarkan rekomendasi dari hasil rekapitulasi dari penulis, melakukan suatu kerja sama dengan pihak lain seperti guru mata pelajaran, agar nantinya materi dalam layanan penguasan konten ini lebih efektif.

- Pemberian layanan konseling peorangan dapat juga diberikan kepada siswa, apabila ada diantara siswa yang mengalami permasalahan pribadi baik dengan materi pelajaran maupun dengan guru yang bersangkutan.

- Pemberian layanan bimbingan kelompok juga dapat diberikan kepada siswa, berkenaan dengan mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa, dalam hal ini guru pembimbing perlu mengundang siswa untuk membahas pandangan siswa berkenaan dengan hasil FKPMP tersebut. Dan kemudian dapat diberikan suatu bimbingan yang menyangkut tentang aspek permasalahan yang terungkap dari format FKPMP.

C. Laporan pengolahan AUM-UMUM

1. Gambaran Pelaksanaan.

Pelaksanaan kegiatan Alat Ungkap Masalah (AUM) Umum dilaksanakan pada tanggal 03 November 2009, bertempat di lokal kelas XI IPS 1. Waktu yang dibutuhkan adalah sekitar lebih kurang 45 menit, pada kesempatan itu siswa yang tidak hadir yaitu Riki Darmansyah, Siti In Fatimah, M. Fajri, dan Fikri Kurnia.

Pelaksanaan kegiatan AUM-UMUM ini sendiri bertujan untuk melihat atau memperolah data dari sisa yang berkenaan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa berkenaan dengan bidang masalah yang bersifat umum, dan untuk menjelasakan pelaksanaan aum ini maka disampaikan dalam bentuk skenario pelaksanaan AUM-UMUM.

2. Skenario Pelaksanaan AUM-UMUM.

“ Assalammualaikum Wr,wb.

Selamat siang ananda semuanya, bagaimana kabar ananda pada hari ini? Semoga senantiasa berada dalam lindungan-Nya dan sukses dalam melakukan rutinitas kesehariannya. Ananda semuanya, sesuai dengan apa yang telah kita bicarakan pada pertemuan sebelumnya, sesuai dengan janji kita, pada hari ini kita akan melakukan sebuah kegiatan yaitu Alat Ungkap Masalah Umum, AUM-UMUM ini merupakan alat ungkap masalah yang terdiri dari item-item pernyataan yang berkenaan dengan masalah-masalah, yang mungkin dialami oleh siswa yang semuanya dikelompokkan ke dalam sepuluh bidang, yaitu:

a. bidang Jasmani dan Kesehatan(JDK) yang terdiri dari 25 pernyataan,

b. bidang Diri Pribadi (20 item),

c. bidang Hubungan Sosial (15 item),

d. bidang Ekonomi dan Keuangan (15 item),

e. bidang Karir dan Pekerjaan (15 item),

f. bidang Pendidikan dan Pelajaran (45 item),

g. bidang Agama,Nilai dan Moral (30 item),

h. bidang Hubungan Muda-mudi dan Perkawinan (25 item),

i. bidang Keadaan dan Hubungan Keluargaan(25 item),

j. bidang Waktu Senggang (10 item).

Dari kesemua item atau pernyataan, jumlah keseluruhan item dalam AUM-UMUM ini berjumlah 225 item pernyataan.

Nantinya, kami akan memberikan sebuah buku AUM-UMUM beserta lembar jawabannya, pada lembar jawaban tersebut anda mengisinya sesuai dengan pernyataan yang ada dalam buku AUM-UMUM, setiap pernyatan dalam buku, dan pernyataan itu sesuai dengan kondisi yang anda alami maka silahkan anda menuisnya pada lembar jawaban.

Dan dalam pengisisan jawaban AUM ini tidak akan dinilai benar salah, jadi ananda semuanya tidak usah takut dalam mengisinya, karena segala data yang nantinya terkumpul dalam kegiatan ini akan dijaga kerahasiaanya. Bagaimana ananda semuanya apakah sudah bisa kita lakukan kegiatan AUM -UMUM ini?, dan nantinya silahkan ananda kumpulkan lembar jawabab tersebut apabila sudah selesai mengisinya”.

3. Analisis hasil AUM UMUM.

a. Data Kelompok.

Dari 10 bidang masalah yang diungkap dalam AUM UMUM ini, bidang masalah Pendidikan dan Pelajaran yang disinngkat dengan JDK, masalah tertinggi 7 dan terendah 1. Dan jumlah keseluruhan masalah dalam bidang ini 89, bila kita persentasekan 10.8%, dan rata-rata setiap siswa mengalami hanpir 3maslah dalm bidang ini. Sedankan masalah berat berjumlah 17 dan rata-rata stiap siswa mengalami 1 maslah berat dalam bidang ini.

Bidang Diri Pribadi yang disingkat dengan DPI, maslah tertinggi 14 dan terendah 2, an jumlah keseluruhan masalah 180, bila kita persentasekan 27,3%, dan rata-rat setiap siswa memiliki 6 masalah dalam bidang ini.Dan jumlah masalah berat 30, dan rat-rata setiap siwa memiliki 1 masalah berat dalam bidang ini.

Bidang Ekonomi dan Keuangan yang disingkat dengan EDK, masalah tertinggi 6 dan terendah 1 dan jumlah keseluruhan masalah 54, dan bla ita persentasekan 11%, dan rata-rat setiap siswa memikim2 masah dalam bidang ini,dan jumlah masalah berat 1 dan tidak ada siswa yang memiliki masalah berat dalam bidang ini.

Bidang Karir dan Pekerjaan yang disingkat dengan KDP, masalah tertinggi 13 dan terendah 1, dan jumlah keseluruhan masalah 229, bila kita persentasekan 46,3% dan rata-rata setiap siswa memiliki 7 masalah. Dan masalah berat berjumlah 27 dan rata-rata setiap siswa memiliki 1 malasah berat.

Bidang pendidikan dan pengajaran yang disingkat dengan PDP, masalah tertinggi 28 an terendah 2, dan jumlah masalah keseluruhan 454 dan bila kita persentasekan 25% dan rata-rata setiap siswa ,memiliki 14 masalah dalam bidang ini, dan maslah berat berjumlah 62 dan rata-rata setiap siswa meml\iliki 2 masalh berat dalam bidang ini.

Bidang Agama, Nilai dan Moral yang disingkat dengan ANM, maslah tertinggi 16 dan terendah 1 dan jumlah keseluruhan maslah dalam bidang ini yaitu 191 danbila kita persentasekan 19,3% dan rata-rata setiap siswa memliki 6 maslah dalam bidang ini, dan masalah berat berjumlah 13 dan rata-rata setiap aiawa tidak memiliki masalah berat dalam bidang ini.

Bidang Hubungan Muda-Mudi ynsg disingkat dengan HMM, masalah tertinggi 7 dan terendah 1,dan umlah keseluruhan maslah dalam bidang inin yaitu 42, an rata0rata setiap aiawamemilk 9 maslah dan bilakita perserntasekan 1,3%. Sedangkan malsalah berat ada tiga, dan rata-rata setiap sisiwa tidak ada memilki masalah dalam bidang ini.

Bidang Keadaan dan hubungan keluarganyanh disingkatdengan KHK, dan dalam keluarga. Masalah tertingg10 dan terendah 1, dan jumlah keseluruhan masalah 106, jika kiata persentasekan 12,8%, dana rata-rata settiap siswa memilki 3 masalah dalam bidang ini, dan masalah berat berjumlah 18 masalah, rata-rata setiap siswa tidak ada siswa yang memiliki masalah dalam bidang ini.

Bidang Waktu Senggang yang disingkat dengan WSG, maslah teetinggi 5 da terendah 1, dan jumlah kseluruhan masalah 47, bilakita persentasekan 14,2%, dan rata-rata setiap siswa memilki 1 maslaah dalam bidang ini. Sedangkan jumlah masalah berat 2 dan rata-rata tidak siswa yang memilki masalah berta dalam bidang ini.

Dari kseluruha maslah jumah maslah tertinggi 106, terendah 11, dan keseluruhan jumlah masalah pada semua bidang 1145, dengan persentase 49.6% denagn rata-rata setiap siswa 44 masalah. Dan keseluruhan jumlah masalah berat 185 dnegan rata-rata setiap ,siswa memiliki 6 masalah berat.

Dari hasil,pengolahan AUM-UMUM format kelompok ini, 2 siswainggin mengkonsultasikan masalahnya ini kepada Guru Pembimbing, 10 siswa kepada Teman, 12 siswa kepada Ornag Tua, 1 siswa kepada Ahli Lain, 2 siswa kepada Lain-lain, dan 6 siswa Tidak Inggin mengkonsultasikan maslahnya ini kepada orang lain.

Dari 10 bidang masalah yang ada dalam AUM-UMUM, bidang Pendidikan dan Pelajaran merupakan masalah yang tertinggi diantara bidang yang lainnya, yaitu 28, selanjutnya bidang bidang Amama, nilai dan moral, yaitu dengan nilai 16. Sedangkan masalah berat juga berada pada bidang Pendidikan dan Pelajaran, yaitu 62 masalah. Dan masalah berat yang memperoleh jumlah sedikit adlah bidang Hubungan Sosial, yaitu dengan jumlah masalah 1. Dan menurut analisis kami bidang ini yang paling sedikit memiliki masalah berat, dan terbukti ketika dilakukan kegiatan sosiometri pada waktu yang lalu, hanya 2 siswa yang berada pada posisi terisolir, dan kebanyakan siswa saling memilih antara satu dengan yang lainnya, apakah dalam hal bermain atau dalam belajar.

b. Data Pribadi.

4. Rencana Bantuan.

Dari hasil analisis AUM UMUM tersebut maka dapat direncanaka beberapa bentuk bantuan seprti:

a. Layanan Informasi.

Data kelompok ( yang menyangkut mahasiswa dalam kelas ) dipergunakan untuk memberikan informasi kepada seluruh siswa tentang maslah-masalah yang mereka alami secara keseluruhan dalam format klasikal. Tujuan kegiatan ini adalah:

- Agar siswa memiliki wawsan dan kesedran tentang bergagai masalah yang mereka alami:

1. Jumlah masalah yang tertinggi dan terendah yang dialami oleh sisiwa dalam satu kelas atau kelompok.

2. Jumlah keseluruhan masalah dengan berbagai variasi dan jenis-jenis masalahnya.

3. Persentase masalah untuk masing-masing bidang masalah.

4. Jumlah rata-rata maslah per-siswa.

5. Junlah masalah yang berat dan rata-rata per-siswa.

6. Kepada siapa siswa inggin membicarakan atau mengkonsultasikan maslah-maslahnya itu.

- Berdasarkan wawsan dan kesadaran mereka tentang masalah-masalah yang mereka lami itu,mereka tergerak untuk memamfaatkan layanan bimbingan dan kondeling yang disediakan oleh guru pembimbing.

- Siswa yang bermasalah diharapkan mencari bantuan untuk pemecahan masalahnya itu dari tenaga ahli yang tepat, dalam hala ini yaitu guru pembimbing.

Untuk mencapai tujuab-tujuab diatas, maka dalam penyampaian atau memamparkan dta AUM-UMUM yang bersifat kelompokdengan jelas, luas dan merangsang. Pemamparan tersebut perlu didahului dengan penjelasan tentang tujuan-tujuan yang hendak dicapai 9 yaitu tujuan tujuan diatas), kemudian dilanjutkan dengan penjelajaha masalah secara lebih mendalam. Hal yang perlu diperhatikan ketika penyampain ini seseklai tidak boleh menyebutkan nama siswa, ini meryupakan penegakkan dari azas kerahasiaan.

b. Layanan Pembelajaran.

Layanan pembelajaran pda dasarnya membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan belajar dan penguasaanterhadap materi pelajaran. Item-item AUM yang termasauk kedalam bidang Pendidikan dan Pembelajaran memuat berbagai permasalahan yang pengentasan dapat dilakukan antara lain melalui layanan layanan pembelajaran. Sesuai denagan sifat penyelenggaraaanya,layan yang secara langsung mengacu kepada peningkatan keterampilan belajar dan penguasaan materi pelajaran dapat mengikuti format klasikal ( yaitu kalau seluruh siswa dalam satu kelas mengikutilayanan), atau format kelompok ( yaitu kalau penyelenggraan berlangsung dalam kelompok-kelompok terbatas), atau format Individual ( yaitu kalau layanan itu dijalani oleh sisiwa secara perorangan).

c. Layanan konseling Perorangan.

Layanan konseling perorangan diselenggrakan selalu dalam format individual. Dalam pertemuan interpersonal tersebut sisiwa dapat menyampikan segala permasalahan yang ia alami selama mengikuti kegiatan belajar baik yang terungkap dalam AUM maupun yang belum terungakap dalam AUM tersebut

d. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok.

Kedua jenis layanan ini selalu diselenggarakan dalam format kelompok. Layaana konseling kelompok membahas topik-topik umum yang disepakati oleh peserta layanan ( siswa ) , sedangkan konseling kelompok membicarakan maslah individual yang dialami oleh anggota kelomok untuk membantu pemecahan masalah tersebut. Topik mana yang akan dibahas ( dalam bimbngan kelompok) dan masalah masalah individual mana yang akan dicoba dientaskan ( malalui konseling kelompok) diselenggarakan kepada anggota kelompok dibawah bimbingan Guru Pembimbing. Jika diperlukan, dalam bimbingan kelompok dan konseling kelompok dapat dibicarakan topik dan masalah yang berada diluar atau tidak muncul malalui kegiatan AUM ini.

D. Laporan pengolahan AUM PTSDL.

1. Gambaran Pelaksanaan.

Pelaksanaan AUM PTSDL dilakukan pada tanggal 17-11-2009, bertempat di lokal IX IPS 1, alokasi waktu dalam kegiatan ini lebih kurang satu ja pertemuan ( 45 menit). Dalam penyelenggraan AUM ini siswa yang tidak hadir yaitu Annisa Aulia dan Shafrul Lahitu.

Kegiatan AUM PTSDL yang dilakukan akan menentukan mutu kegiatan belajr yang selanjutnya akan menentukan hasil belajr mereka. Dalam kaitan itu, keadaan PTSDL siswa perlu diungakapkan dalam rangka peningkatan demi tercapainya hasil belajar yang optimal siswa yang bersangkutan.

AUM PTSDL sendiri mengungkap maslah –masalah yang dihadapioleh sisiwa dala melkukan kegiatan belajar, yang dikelompokan kedalam lima bidang yaitu Prasyarat prnguasan materi pelajaran ( P), Keterampilan belajar (T), Sarana belajar (S), Dir pribadi(D), dan Lingkungan belajar dan sosio-emosional (L).

2. Skenario Pelaksanaan AUM PTSDL.

“ Assalamualaikum, Wr.wb.

Selamat siang ananda semuanya , bagaimana keadaan ananda pada hari ini , semoga dalam keadaan sehat walafiat dan sukses dalam aktivitasnya dalam keseharian. Ananda semuanya pada kesempatan kali ini kita akan melakukan untu menegingkap maslah-masalah yang ananda alami dalam kegiatan belajar, yaitu Alat Ungkap Masalah PTSDL. Bila kita tuliskan secara sendiri masalah-masalah yag kita hadaapi dalam belajar, itu hanya akan terungkap maksimal 10 sampai 20 masalah, namum dengan AUM PTSDL ini akan membantu ananda semunya untuk mengunggakap berbagai macam permasalahan yang kita alami selama proses belajar.

Bidang masalah yang terungkap dengan AUM ini adalam bidang prasyrat penguasaan materi pelajaran, keteramilan belajar, sarana belajar, diri pribadi dan lingkungan belajr sosio-emosional. Nantinya saya akan membagikan kapada ananda semuanya satu buku AUM beserta lembar jawabannya, pada lembar jawaban ananda akan mengisi identitas diri. Pada lembar jawaban semua item yang ada dalam AUM PTSDL ini harus ananda isi dan tidak ada satupun item yang tidak diisi, dan juga jawaban ananda nantinya tidak akan dinilai benar salahnya, maka silahkan ananda mengisinya sesuai dengan keadaaan diri ananda pada saat itu.

Dan pada lembar jawaban tersebut ada lima pilihan yang akan anda isi yaitu pilihan J ( Jarang), terjadinya 0% - 15%. K ( Kadana-kadang), terjadinya 16% - 35%. Sr ( Sering), terjadainya 36% - 65%. U ( Pada Umumnya), terjadinya 66% - 85%. Dan SL ( Selalu), terjadinya 86%- 100%.

Bagaimana ananda semuanya, apakah masih ada yang belum dimengerti enaga kegiatan kita pada hari ini? kalau tidak, kita laksanankan kegiatan AUM PTSDL”.

3. Analisis Hasil AUM PTSDL.

A. Data Kelompok.

Untuk bidang masalah Prasysrat prnguasaan materi yang disingkat dengan P, skor tertinggi 25, terendah 1, dan jullah skor pada bidang ini 528, dan rata-rata setiap siswamemilki skor 15,1. Sedangkan untuk masalah, tertinggi 11, teredah 1, jumlah masalah 142, dan rata-rata setiap siswa memiliki 4,1 masalah.

Bidang Keteramilan Belajar yang dsingkat dengan T, skor tertinggi 98, terendah 14 , jumlah skor 17140, dan rata-rata setiap siswa memiliki nilai skor 48,9 atau 50. Sedangkan untuk masalah, masalah tertinggi 51, terendah 2, junlah keseluruhan masalah 727, dan rata-rata setiap siswa memiliki 20,8 masalah kalau digenapkan 29 masalah untuk bidang ini.

Bidang Sarana Belajar yang disingkat dengan S, skor tertingggi 26, terendah 3, jumlah skor k563, dan rata0rata setiap siswa mwmiliki nilai skor 16. Sedangkan masalah tertingggi 10, terendah 1, jumlah masalah 88 dan rata-rata setiap siwa memilki 2,5 atau 3 masalah pada bidang ini.

Bidang Diri Pribadi aygn disingkat dengan D, skor tertinggi 38, terendah 7 umalah skor 815 dan rata-rata setiap siswa memiliki skor 23,3. Sedangkan untuk maslah yang tertinggi 21, terendah 2 d, jumlah masalah 241 an rata-rata setiap siswa memiliki 7 masalah dalam bidang ini.

Untuk bidang Lingkungan Belajar dan Sosio-emosional ayng disingkat dengan L, skor tertinggi 38, terendah 9, jumlah skor 777, dan setiap sisiwa memiliki nilai skor yaitu 22. Sedangkan masalah tertinggi 11, terendah 2, jumlah masalah dalam bidang ini 185, dan rata-rata setiap siswa memilki 5 masalah dalam bidang ini.

Keseluruhan skor tertinggi yaitu 220, terendah 45, jumlah keseluruhan skor 4393, dan keseluruhan skor rata-rata setiap siswa adalah 125,5. Sedangkan keseluruhan masalah tertinggi 97, terrendah 5, keseluruhan jumlah masalah dalam bidang ini 1383, dan keseluruhan masalah, rata-rata setiap siswa 39,5 masalah atau 4 masalah untukmasing-masing siswa.

Dari 5 bidang masalah yang diungkapakan dalam AUM PTSDL , bidang masalah Keterampailan Belajar memperoleh nilai skor yang tertinggi dibandingkan dengan bidang yang lannya, yaitu 98 dan terendah dalah bidang Prasyarat Penguasaan Materri Pelajaran, yaitu 25.Sedangkan untuk masalah, bidang yang memiliki masalah tertinggi dadalah bidang Keterampilan Belajar, dengan jumlah masalah 51. Dan terendah yaitu bidang masalah Prasyarat Penguasaan Materi Pelajaran, Sarana Belajar, dengan jumlah masalah yaitu 1 masalah.

Dari 10 bidang masalah yang ada dalam AUM PTSDL, bidang Pendidikan dan Pelajaran merupakan maslah yang tertinggi diantara bidang yang lainnya, yaitu 28, selanjutnya bidang bidang Amama, nilai dan moral, yaitu dengan nilai 16. Sedangkan masalah berat juga berada pada bidang Pendidikan dan Pelajaran, yaitu 62 masalah. Dan masalah berat yang memperoleh jumlah sedikit adlah bidang Hubungan Sosial, yaitu dengan jumlah masalah 1. Dan menurut analisis kami bidang ini yang paling sedikit memiliki masalah berat, dan terbukti ketika dilakukan kegiatan sosiometri pada waktu yang lalu, hanya 2 siswa yang berada pada posisi terisolir, dan kebanyakan siswa saling memilih antara satu dengan yang lainnya, apakah dalam hal bermain atau dalam belajar.

B. Data Pribadi.

4. Rencana Bantuan.

Setelah dilakukannya pengolahan hail dari AUM PTSDL tersbut ,maka perlu direncanakan bebrapalayann untuk membantu sisiwa dalam meningkatakan kemampuan atuapnkulaitas belajar, damn juga dengan layanan ini tekanan-tekanan perasaana yang selam ini diarasakana oleh siswa dapat dientaskan dengan proses komunkasi maupun dengan layanan yang diberikan oleh guru pembimbing atau perencana layanan.

a. Layanan Informasi.

Data kelompok yang menyangkut data sisiwa satu kelas dipergunakan utuk memberikan informasi kepada seluruh siswa tentang mutu dan kegiatan dan massalh-masalah belajar yang mereka alami secara keseluruhan dalam format klasikal. Tujuan kegiatan ini adalah:

- Agar siswa memiliki wawasan dan kesadaarn tentang mutu kegiatan belajar dan bernagai masalah yang mereka alami:

1. Skor mutu kegiatan belajar kelas: skor tertinggi, terendah, an rata-rata per-siswa.

2. Jumlah keseluruahan masalah dengan berbagai variasi dan jenis-jenis masalahnya.

3. Persentase maslah untuk masing-masing bidang masalah.

4. Jumlah rata-rata masalah pert-siswa.

- Berdaasrkan wawasn dan kesadaran mereka tentang mutu kegiatan belajar dan masalah-maslahy yang mereka alami itu, mereka diharapakan tergerak untuk memamfatakan layanan konseeing yang disediakan oleh guru pembimbing.

- Sisiwa yang bermasalah diharapaan mencari bantuan ntuk pemecahan masalshnya itu dari tenaga ahli yang tepat, dalam hal ini guru pembimbing.

Untuk mencapa tujuan –tujuan diatas, grupembimbing perlu memeamparkan data AUM PTSDL yag bersifat kelompok dengan jelas, luas dan merangsang. Pemamparan tersebut perlu didahuli dengan penjelasan tentang tujuan-tujuab yang hendak dicapai, kemudian dlanjutkan denagan penyajian data AUM, dilengkapi deangan tanya jaawab, diskusi dan penjelajahan maslah secara lebih mendalam. Satau hal yang sangat perlu mendapayt perhatian bahawa dlampembahadsan data tersebut selaki-kali tidak boleh menyebutkan nama siswa yang bersangkutan ( yang aada dalam kelas itu) maupun nam siapapun juga. Hali ini merupakan upaya penegakakn azas kerahasiaan.

b. Layanan Pembelajaran.

Layanan pembelajaran pada dasarnya siswa dalam mengembangkan keteramp[ilan belajar dan penguasaan terhadap materi pelajarn. Item-item AUM PTSDL yang termasuk kedalam bidang Ketermpilan Belajar memuat berbagai permasalahan yang pengentasan nya dapat dilakukan anatara laian melalui layanan pembelajaran. Sesuia deanga sifat penyelenhggaraannya, layanan yang secara langsung mengaju kepada eningkatan keterampilan belajar dan penguasaan materi belajar itu dapat dilakuakandenga format klasikal ( kalau seluruh siswa dalam satu kelasa mengikuti layanan), format klasikal ( kalau penyelenggaraannya berlangsung dalam kelompok terbatas), atau format individul ( kalau layanan itu dijalani oleh siswa secara perorangan).

c. Layanan Konseling Perorangan.

Layanana konseling perornagan diselengaraakan selau dalam format individual. Dalampertemuan tang intens tersebut semua masalah yang menjai kandungan dlam item-item AUM PTSDL dapt dibicarakn. Bahkan semua maslah-maslah laian yang belum termunculkan dalam AUM pun dapat dibicarakan dlam konseling perorangsan. Maslah man yang akan didahlukan dana sangkut paut maslah yag satu deanga yang liannya sangat tergantung pada apa yang dirasakan dan menjadi tujuan dari siswa yang bersangkutan.

d. Layanan Bimbingnan dan Konseling Kelompok.

Kedua jenis layanan ini selalu diselenggarakan dalam format kelompok. Layaana konseling kelompok membahas topik-topik umum yang disepakati oleh peserta layanan ( sisiwa ) , sedangkan konseling kelompok membicarakan maslah individual yang dialami oleh anggota kelomok untuk membantu pemecahan masalah tersebut. Topik mana yang akan dibahas ( dalam bimbngan kelompok) dan masalah masalah individual mana yang akan dicoba dientaskan ( malalui konseling kelompk) diselenggarakan kepada anggota kelompok dibawah bimbingan Guru Pembimbing. Jika diperlukan, dalam bimbingan kelompok dan konseling kelompok dapat dibicarakan topik dan masalah yang berada diluar atau tidak muncul malalui kegiatan AUM ini.

E. KUNJUNGAN RUMAH

Kegiatan Kunjungan Rumah adalah suatu bentuk upaya untuk mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan permaslaahan anak atau individu yang menjadi tanggung jawab konselor dalam pelayanan konseling. Dengan Kunjungan rumah ini, diharapkan akan diperoleh berbagai inforamasi atau data yang dapat digunakan untuk lebih mengefektifkan layanan konseling.

Lebih dari itu, dengan Kunjungan Rumah konselor diharapkan nantinya dapt mendorong partisipasi orang tua dan juga anggota keluarga lainnya untyuk dapat ikut berperan dalam hal penanganan dan pengentasan permasalahan yang dihadapi oleh individu atau siswa.

Berdasarkan instruksi yang diberikan dosen pembimbing mata kuliah, penulis telah mencoba untuk mengkoordinasikan mengenai kegiatan kunjungan rukah yang ingin penulis lakukan. Disertai dengan beberapa penjelasan yang telah bersifat komunikatif, pada akhirnya guru konselor di sekolah ini keberatan dengan rencana penulis ini. Dengan alasan bahwa, hanya dengan berdasarkan hasil dari AUM-UMUM dan AUM-PTSDL hal ini belum dinyatakan memenuhi syarat untuk dilakukannya kegiatan kunjungan rumah. Menurut guru pembimbing, kegiatan ini jika tidak didasarkan kepada hal yang lebih bersifat konfrehensif dan kajian yang mendalam, kemungkinan untuk timbulnya kesalahpahaman tentang hal ini bisa saja muncul dari pihak keluarga terhadap pihak sekolah. Untuk hal ini sekolah menyatakan tidak siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang mungkin muncul. Setelah bermusyawarah dengan teman kelompok, akhirnya kegiatan kunjungan rumah yang hendak penulis lakukan tidak jadi dilaksanakan.

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Kesimpulan Umum

Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995).

Bimbingan dan konseling bukanlah kegiatan pembelajaran dalam konteks adegan mengajar yang layaknya dilakukan guru sebagai pembelajaran bidang studi, melainkan layanan ahli dalam konteks memandirikan peserta didik. (Naskah Akademik ABKIN, Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, 2007).

Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.

2. KESIMPULAN LAPORAN

Dari pembahasan yang telah dikemukakan pada BAB tedahulu, maka dapat disimpulkan bahwa:

a. Sosiometri

Pada umumnya gambaran hbungan sosial pada kelas XI IPS 1 cukup baik, walaupun masih ada 2 siswa yang belum mampu menjalin hubungan sosial dengan teman lainnya pada bidang bermain dan 5 siswa yang terisolir dalam hal belajar.

b. FKPMP

Dari 12 mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa selama semester ini, 3 mata pelajaran yang dianggap tersulit oleh siswa yaitu Bahasa jepang, ekonomi dan matematika.

c. AUM UMUM

Bidang masalah yang masih banyak menjadi permasalahan bagi siswa kelas XI IPA 1 adalah dibang masalah pendidikan dan pealajaran dan yang terendah bidang masalah hubungan sosial, dan dari 36 siswa hanya 2 siswa yang ingin mengkonsultasikan permmasalahannya kepada guru pembimbing, dan setelah dikomunikasikan lebih lanjut kepada guru konselor sekolah, 2 orang siswa tersebut memang sudah pernah sebelummnya melakukan keonsultasi dengan guru pembimbing disekolah berkenaan dengan permasalahan yang ia hadapi selama mengikuti proses belajar mengajar.

d. AUM PTSDL

Dari 5 bidang masalah yang diungkapkan yang diungkapkan dalam AUM PTSDL, bidang masalah keterampilan belajar merupakan bidang secara umum lebih banyak permasalahannya dikemukakan oleh siswa dibandingkan dengan dengan bidang masalah lainnya, di bidang masalah yang sedikit diungkapkan melalui AUM PTSDL ini adalah bidang masalh hubungan sosial.

B. Saran

Dalam penyelesaian laporan ini, penulis meyakini bahwa tak ada gading yang tak retak. Begitu juga dalam laporan ini, demi tercapainya kesempurnaan dalam laporan ini penulis menerima saran dan kritik dari pembaca yang bersifat konstruktif.

beberapa aspek penting yang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pihak sekolah dalam rangka penanganan terhadap siswa yang mengalami kesulitan dan permasalahan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Diantaranya :

1. Dengan telah dilaksanakannnya kegiatan pendukung di sekolah ini, berbagai rekomendasi perencanaan bentuk tindak lanjut yang penulis ajukan diharapkan mampu menjadi bahan pertimbangan untuk guru pembimbing dalam menjalankan peran fungsionalnya di sekolah ini.

2. Guru pembimbing diharapkan mampu mengambil tindakan yang bersifat preventif untuk mencegah berlarutnya masalah yang dihadapi oleh siswa.

3. Diharapkan pihak sekolah bersama dengan guru pembimbing agar dapat menjalin suatu komunikasi yang baik dengan pihak keluarga dari peserta didik dalam berbagai bentuk kegiatan, termasuk dalam hal penanganan dan pengentasan masalah siswa.

4. Semoga berbagai bentuk kegiatan yang telah penulis lakukan di sekolah ini bermanfaat sebagaimana seharusnya untuk mengoptimalkan peran efektif guru pembimbing di sekolah ini.

KEPUSTAKAAN

Prayitno. (1997). Pelayanan BImbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum.

Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.

Prayitno, dkk (1997). Pedoman AUM-UMUM dan AUM-PTSDL. Jakarta : Student

Support Service and Career Planing Development.

Prayitno. (2006). Seri kegiatan Pendukung P.1 – P.6. Padang : Jurusan

Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan.

Tohirin. (2007). Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah Berbasis Integrasi.

Jakarta : PT. RAJA Grafindo Persada.

Nurkancana, Wayan. (1993). Pemahaman Individu. Surabaya : Usaha Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar