Selasa, 14 Juni 2016

TEORI BELAJAR EDWIN RAY GUTHRIE

A. PENDAHULUAN 1. Pengantar Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat. Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Ray Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya dari Edwin Ray Guthrie aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran. Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti, yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang. Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991). 2. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: a. Untuk menambah wawasan penulis dan peserta diskusi mengenai tori belajar Behavioristik menurut pandangan tokoh aliran Behavioristik Edwin Ray Guthrie dengan satu hukum belajarnya, yaitu Law of Contiguity (hukum kontiguitas). b. Untuk memenuhi salah satu syarat perkuliahan pada mata kuliah Teori Belajar dan pembelajaran yang akan disampaikan pada sesi diskusi. 3. Manfaat Penulisan Beberapa manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut: a. Penulis memahami lebih mendalam mengenai teori belajar Behavioristik menurut pandangan tokoh aliran Behavioristik Edwin Ray Guthrie. b. Sebagai bahan rujukan bagi peserta diskusi dalam mengajukan berbagai macam pertanyaan mengenai teori belajar menurut Edwin Ray Guthrie. c. Sebagai insan pendidik bisa memanfaatkan teori belajar dan pembelajaran dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran. B. PEMBAHASAN 1. Riwayat Edwin Ray Guthrie Edwin Ray Guthrie lahir pada tahun 1886 dan meninggal pada tahun 1959. Guthrie adalah filosof, matematikawan dan psikolog behavior. Guthrie menerima gelar sarjana dalam bidang matematika dan gelar master dari bidang filsafat dari Universitas Pennsylvania tahun 1912, beliau pernah mengajar di SMA dan ditawari posisi sebagai professor filsafat di Universitas Washington tahun 1914. Pada tahun 1919 beliau berpindah dari filsafat ke psikologi dan kemudian menjadi dekan pascasarjana departemen psikologi tahun 1943. Serta ditunjuk dan diangkat sebagai presiden Asosiasi Psikologi Amerika tahun 1945. Edwin Ray Guthrie mempunyai banyak karya, yang terkenal adalah Psicology Of Learning, yang dipublikasikan pada 1935 dan direvisi pada tahun 1952. Gaya tulisannya mudah diikuti, penuh humor, dan menggunakan banyak kisah untuk menunjukkan contoh ide-idenya. Tidak ada istilah teknis atau persamaan matematika, dan Guthrie sangat yakin bahwa teorinya atau teori ilmiah apa saja harus dikemukakan dengan cara yang dapat dipahami oleh mahasiswa baru. Dia sangat menekankan pada aplikasi praktis dari gagasannya dan dalam hal ini mirip dengan Thorndike dan skinner. Guthrie sebenarnya bukan eksperimentalis meskipun dia jelas punya pandangan dan orientasi eksperimental. Bersama Horton, Guthrie hanya melakukan satu percobaan yang terkait dengan teori belajaranya. Guthrie jelas adalah seorang behavioris. Dia bahkan menganggap teoretisi seperti Thorndike, Skinner, Hull, Pavlov, dan Watson masih sangat subjektif dan dengan menerapkan hukum parsimony secara hati-hati akan dimungkinkan untuk menjelaskan semua fenomena belajar dengan menggunakan satu prinsip, satu prinsip ini adalah hukum asosiasi Aristoteles, sehingga alasan inilah ditempatkannya teori behavioristik Guthrie dalam paradigma asosiasionistik. 2. Konsep Teoritis Utama a. Satu Hukum Belajar Sebagian besar teori belajar dapat dianggap sebagai usaha untuk menentukan kaidah yang mengatur terjadinya asosiasi antara stimuli dan respons. Satu hukum belajar yang diusulkan oleh Guthrie adalah Law of Contiguity (hukum kontiguitas), yang dinyatakan sebagai berikut: “Kombinasi stimuli yang mengiringi suatu gerakan akan cenderung diikuti oleh gerakan itu jika kejadiannya berulang. Jadi, jika pada situasi tertentu kita melakukan sesuatu, maka pada waktu lain dan situasinya sama kita akan cenderung melakukan hal yang sama juga. Hukum tersebut diusulkan oleh Guthrie karena menganggap kaidah yang dikemukakan oleh Thorndike dan Pavlov terlalu rumit dan berlebihan. Thorndike mengemukakan bahwa, jika respons menemukan kondisi yang memuaskan maka koneksi S-R akan menguat. Disisi lain Pavlov mengemukakan dengan hukum belajarnya dengan model kondisional berupa CR-CS-US-UR. Unsur- unsur itulah yang dianggap oleh guthrie berlebihan. Dalam publikasi terakhirnya sebelum meninggal Guthrie (1959) merevisi hukum kontiguitasnya menjadi, “Apa-apa yang dilihat akan menjadi sinyal untuk apa-apa yang dilakukan”. Ini adalah cara Guthrie mengakui begitu banyaknya jumlah stimuli yang dihadapi organisme pada satu waktu tertentu dan organisme tidak mungkin membentuk asosiasi dengan semua stimuli itu. Organisme akan merespons secara selektif pada sebagian kecil dari stimuli yang dihadapinya, dan proporsi inilah yang akan diasosiasikan dengan respons. Disini terlihat ada kemiripan antara pemikiran Guthrie dengan konsep Thorndike tentang “prapotensi elemen”, yang juga menyatakan bahwa organisme merespons secara selektif terhadap aspek-aspek lingkungan yang berbeda-beda. Tidak ada yang baru dalam hukum kontiguitas sebagai prinsip belajar. Hukum belajar berakar dari hukum asosiasi Aristoteles. Namun Guthrie menjadikan hukum kontiguitas sebagai dasar dari teori belajarnya yang unik. b. Belajar Satu Percobaan Hukum lain dari asosiasi Aristoteles adala hukum frekuensi, yang menyatakan bahwa kekuatan asosiasi akan tergantung pada frekuensi kejadiannya. Jika hukum frekuensi dimodifikasi untuk merujuk pada asosiasi antara respons yang menimbulkan “keadaan yang memuaskan” dengan kondisi pemicu yang mendahuluin respons, Thorndike, Skinner, dan Hull akan menerimanya. Semakin sering suatu respons dikuatkan dalam situasi tertentu akan semakin besar kemungkinan respons itu akan dilakukan saat situasi itu terjadi lagi. Namun prinsip one-trial learning (belajar satu percobaan) dari Guthrie (1942) menolak hukum frekuensi sebagai prinsip belajar :”Suatu pola stimulus mendapatkan kekuatan asosiatif penuh pada saat pertama kali dipasangkan dengan suatu respons”. Jadi menurut Guthrie, belajar adalah hasil dari kontiguitas antara satu pola stimulasi dengan satu respons, dan belajar akan lengkap (asosiasi penuh) hanya setelah penyandingan antara stimuli dan respons. c. Prinsip Kebaruan Prinsip kontiguitas dan belajar satu percobaan membutuhkan recency principle (prinsip kebaruan), yang menyatakan bahwa respons yang dilakukan terakhir kali di hadapan seperangkat stimuli adalah respons yang akan dilakukan ketika kombinasi stimulus itu terjadi lagi di waktu lain. Dengan kata lain, apa pun yang kita lakukan terakhir kali dalam situasi tertentu akan cenderung kita lakukan lagi jika situasi itu kita jumpai lagi. d. Stimuli yang Dihasilkan Oleh Gerakan Meskipun Guthrie menekankan keyakinannya pada hukum kontiguitas di sepanjang karirnya, dia menganggap akan keliru jika kita menganggap asosiasi yang dipelajari sebagaian hanya asosiasi antara stimuli lingkungan dengan prilaku nyata. Misalnya, kejadian di lingkungan dan responsnya terkadang dipisahkan oleh satu interval waktu, dan karenanya sulit untuk menganggap keduanya sebagai kejadian yang bersamaan. Guthrie selanjutnya mengatasi problem tersebut dengan mengemukakan adanya movement-product stimuli (stimuli yang dihasilkan oleh gerakan), yakni disebabkan oleh gerakan tubuh. Jika kita mendengar suara dan menengok kearah suara itu, misalnya, maka otot, tendon dan sendi bergabung membentuk stimuli yang berbeda dari stimuli eksternal yang menyebabkan kita menoleh. Fakta penting tentang stimuli yang disebabkan oleh gerakan ini adalah bahwa respon dapat dikondisikan ke stimuli semacam itu. Yakni, stetelah satu respons dipicu oleh stimuli eksternal, tubuh itu sendiri menghasilkan stimulus untuk respons selanjutnya dan respons itu melengkapi stimulus untuk respons selanjutnya, dan seterusnya. Jadi, interval antara kejadian suatu stimulus eksternal dengan respons akhirnya diisi oleh stimuli yang dihasilkan oleh gerakan. Guthrie (1953) memberi contoh bagaimana dia mempercayai fungsi stimuli yang dihasilkan oleh gerakan, ketika mendengar telepon berdering kita berdiri dan berjalan mendekati pesawat telepon. Sebelum kita sampai ke pesawat telepon, suara deringan tersebut sudah tidak lagi bertindak sebagai stimulus. Kita tetap bergerak karena ada stimuli dari gerakan kita sendiri menuju pesawat telepon. Satu gerakan diikuti oleh gerakan lainnya, lalu diikuti gerakan ketiga, keempat dan seterusnya. Gerakan kita membentuk sederetan kebiasaan yang sering dan sama. Versi sederhana dari situasi ini dideskripsikan dalam contoh Guthrie yang dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut : Pendapat Guthrie bahwa respons bisa menghadirkan stimuli untuk respons selanjutnya menjadi sangat populer dikalangan teoretisi belajar dan masih dipakai dalam penjelasan mengenai proses berantai. Dimana penjelasan berantai oleh Guthrie lebih menekankan pada stimuli eksternal. e. Mengapa Praktik Latihan Meningkatkan Performa Untuk menjawab pertanyaan ini, Guthrie membedakan antara act (tindakan) dengan movement (gerakan). Gerakan adalah kontraksi otot; tindakan terdiri dari berbagai macam gerakan. Tidakan biasanya didefinisikan dalam term apa-apa yang dicapainya, yakni perubahan apa yang mereka lakukan dalam lingkungan. Sebagai contoh tindakan, Guthrie menyebut misalnya mengetik surat, makan pagi, melempar bola, membaca buku, atau menjual mobil. Adapun untuk belajar tindakan membutuhkan praktik latihan. Belajar bertindak, yang berbeda dari gerakan, jelas membutuhkan praktik sebab ia mengharuskan gerakan yang tepat telah diasosiasikan dengan petunjuknya. Bahkan menurut Guthrie, tindakan sederhana seperti memegang raket membutuhkan beberapa gerakan berbeda sesuai jarak dan arah posisi objek itu. Untuk itulah diperlukan sebuah latihan, karena dengan menguasai sebuah tindakan tidak menjamin pada saat waktu, jarak, dan posisi yang berbeda tindakan itu masih dapat dilakukan. Seperti Guthrie dan Thorndike percaya bahwa pendidikan formal seharusnya menyerupai situasi nyata semirip mungkin. Dengan kata lain guru meminta siswanya untuk melakukan atau mempelajari hal-hal yang kelak akan mereka lakukan saat mereka lulus nanti. Guthrie mendukung program magang atau monitoring dan mendorong progam pertukaran pelajar untuk memperluas pengalaman pelajar. Sebagaimana satu tindakan terdiri dari beberapa gerakan, satu keahlian juga terdiri dari beberapa tindakan. Guthrie (1942) mengatakan, “Belajar biasanya terjadi dalam satu episode asosiatif. Dibutuhkan banyak latihan dan banyak repetisi untuk mendapatkan keterampilan tertentu, sebab keterampilan membutuhkan banyak gerakan spesifik yang harus dikaitkan dengan berbagai situasi stimulus yang berbeda-beda. Keterampilan atau keahlian bukan kebiasaan sederhana, tetapi sekumpulan besar kebiasaan yang menghasilkan sesuatu prestasi tertentu dalam berbagai macam situasi”. Ringkasnya, suatu keterampilan terdiri dari banyak tindakan, dan tindakan terdiri dari banyak gerakan. Hubungan antara satu perangkat stimuli dengan gerakan dipelajari secara lengkap dalam satu kali percobaan, namun proses belajar ini tidak melahirkan kemahiran dalam menjalankan suatu keahlian atau keterampilan. Tetapi dibutuhkan waktu dan latihan agar asosiasi yang dibutuhkan bisa terwujud. f. Sifat Penguatan Apa yang menggantikan kekuatan dalam teori Guthrie? Pada poin ini Gutrie menggunakan isu yang dibahas Thorndike, ketika satu respons menimbulkan keadaan yang memuaskan, maka selanjutnya terulangnya respons akan meningkat. Guthrie menganggap hukum efek tidak dibutuhkan. Menurut Guthrie, reinformance (penguatan) hanyalah aransemen mekanis, yang dianggap dapat dijelaskan dengan hukum belajaranya. Gutrie menganggap, penguatan mengubah kondisi yang menstimulasi, dan karenanya mencegah terjadinya nonlearning. Misalnya, dalam kotak teka teki, hal yang dilakukan hewan sebelum menerima satu penguat adalah menggerakkan satu tuas atau menarik cincin, yang membuatanya bisa keluar dari kotak itu, dan seterusnya. Oleh karena itulah, Guthrie dan Horton (1946) mengatakan, menurut pendapat mereka tindakan yang dilakukan oleh kucing itu akan selalu sama, karena kucing itu menganggap itulah caranya membebaskan diri dari kotak. Oleh karena itu, tidak memungkinkan adanya respons baru yang dihubungkan dengan kotak tersebut. g. Eksperimen Guthrie-Horton Guthrie dan Horton (1946) secara cermat mengamati sekitar delapan ratus kali tidak melepaskan diri dari kotak teka-teki yang dilakukan oleh kucing yang kemudian observasi ini dilaporan dalam sebuah buku yang berjudul Cats In a Puzzle Box. Kotak yang mereka pakai sama dengan yang dipakai Thorndike dalam melakukan eksperimennya. Guthrie dan Horton menggunakan banyak kucing sebagai subyek percobaan, akan tetapi mereka melihat kucing keluar dari kotak dengan cara sendiri-sendiri dan berbeda-beda. Dari percobaan diatas respon khusus yang dipelajari oleh hewan tertentu adalah respon yang dilakukan hewan sebelum ia keluar dari kotak. Karena respon ini cenderung diulang lagi saat kucing diletakkan di kotak di waktu yang lain, maka ia dinamakan stereotyped behavior (perilaku strereotip). Misalnya, kucing A akan menekan tuas dengan pantatnya, kucing B dengan kepalanya, atau kucing C dengan cakarnya. Guthrie mengatakan bahwa dalam masing-masing kasus, terbukanya pintu kotak merupakan perubahan yang mendadak dalam kondisi yang menstimulasi. Dengan mengubah kondisi yang menstimulasi, respons menggerakkan tuas dengan pantat, misalnya, tidak akan dilupakan. Hal terakhir yang dilakukan hewan sebelum pintu terbuka adalah mendorong tuas dengan pantat, dan karena ia mendorong dengan pantat itulah kondisi yang menstimulasi berubah. Jadi berdasarkan hukum kebaruan, ketika kita menempatkan hewan itu lagi ke kotak di waktu lain, hewan itu akan merespons dengan mendorong tuas dengan pantatnya, dan inilah yang dilihat oleh Guthrie dan Horton dalam percobaannya. Catatan gambar perilaku kucing ini ditunjukkan di Gambar 1.1 Gambar 1.1 Catatan gambar serangkaian respons salah satu kucing Guthrie untuk membebaskan diri. Gambar ini diambil secara otomatis ketika kucing menggerakkan tuas. Perhatikan bahwa kucing cenderung menggerakkan tuas kearah yang sama disetiap percobaan. (Dari Cats in a Puzzle Box, h. 53-55, oleh E.R. Guthrie & G.P.Horton, 1946, New York : Holt, Rinehart & Winston. Dimuat dengan izin) Guhtrie dan Horton mengamati bahwa seringkali hewan, setelah bebas dari kotak akan mengabaikan ikan yang diberikan kepadanya. Meskipun hewan itu mengabaikan obyek yang disebut penguatan tersebut, kucing dapat keluar dari kotak dengan lancar ketika diwaktu yang lain ia dimasukkan lagi ke dalam kotak. Observasi ini, menurut Guthrie memperkuat pendapatnya bahwa penguatan hanyalah aransemen mekanis yang mencegah terjadinya unlearning. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap kejadian yang diikuti dengan respons yang diinginkan dari hewan akan mengubah kondisi yang menstimulasi dan karenanya mempertahankan respons di dalam kondisi yang menstimulasi sebelumnya. h. Lupa Menurut Guthrie Menurut Guthrie, lupa disebabkan oleh munculnya respons alternatif dalam satu pola stimulus. Setelah pola stimulus menghasilkan respons alternatif, pola stimulus itu kemudian akan cenderung menghasilkan respons baru. Jadi menurut Guthrie, lupa pasti melibatkan proses belajar baru. Ini adalah bentuk retroactive inhibition (hambatan retroaktif) yang ekstrem, yakni fakta bahwa proses belajar lama diintervensi oleh proses belajar baru. Untuk menunjukkan hambatan retroaktif, contohnya sebagai berikut: Seseorang yang belajar tugas A dan kemudian belajar tugas B lalu diuji untuk tugas A. satu orang lainnya belajar tugas A, tetapi tidak belajar tugas B, dan kemudian diuji pada tugas A. secara umum akan ditemukan bahwa orang pertama mengingat tugas A lebih sedikit ketimbang orang kedua. Jadi, tampak bahwa mempelajari hal baru (tugas B) telah mencampuri retensi dari apa yang dipelajari sebelumnya (tugas A). Guthrie menerima bentuk hambatan retroaktif ektrim ini. Pendapatnya adalah bahwa setiap kali mempelajari hal yang baru, maka proses itu akan menghambat sesuatu yang lama. Dengan kata lain, lupa disebabkan oleh intervensi. Tak ada intervensi, maka lupa tidak akan terjadi. 3. Cara Memutus Kebiasaan Kebiasaan dalam teori Guthrie ini didefinisikan sebagai sebuah respon yang diasosiasikan dengan sejumlah besar stimulus. Semakin banyak stimuli yang menimbulkan respons, semakin kuat kebiasaan. Untuk menghentikan kebiasaan yang inappropriate (tidak sesuai) maka kebiasaan itu perlu diputus. Untuk itu, perlu memutus pula hubungan antara asosiasi dengan 'cues' yang memunculkan stimuli (rangsangan) dan respons. Ada tiga metode yang ditawarkan oleh Gutrhrie untuk memutuskan kebiasaan yaitu metode ambang pintu (threshold methode), metode yang kaku (fatigue methode), dan metode respons tandingan (incompatable respons methode). Ringkasan Tiga Metode memutus kebiasaan : Metode Karakteristik Contoh Metode Ambang (threshold method) 1. Mengenalkan stimuli dengan kekuatan yang lemah. Secara perlahan meningkatkan kekuatan stimuli, tetapi menjaganya dibawah respons batas minimal. Memasang pelana kudayang belum pernah diberi pelana di punggungnya dan kita berusaha meletakkan pelana ke punggungnya, kuda itu biasanya kan menendang-nendang dan lari, kuda tersebut akan melakukan apa saja untuk mencegah kita memasang pelana di punggungnya. Dengan metode ambang dapat dilakukan dengan cara, dengan tidak langsung meletakkan pelana, mulai dengan selimut yang ringan, kemudian selimut yang lebih berat, baru kemudian pelana kuda. Metode Kelelahan (fatigue method) " mengeluarkan " semua respons dalam menghadirkan stimuli. Cara penjinakan kuda, dimana pelana dilempar ke punggunggya, penunggang menaikinya, dan berusaha mengendarai kuda itu sampai kuda itu menyerah. Kuda ditunggangi sampai ia lelah dan menyebabkannya tidak tidak melawan lagi. Metode Respons yang Tidak Kompatibel (incompatable respons methode) Memasangkan stimulus (S1) yang menyebabkan perilaku tidak sesuai (inapropiate) dengan stimulus (S2) yang memunculkan respons-respons yang sesuai (apropiate), perilaku yang sesuai diasosiasikan dengan stimulus (S2). Seorang anak mendapat hadiah boneka panda, reaksi pertamanya adalah takut dan menghindar. Sebaliknya, ibu si anak itu memberi rasa kehangatan dan kenyamanan pada diri si anak. Dengan menggunakan metode respons yang tidak kompatibel, dengan memasangkan ibu dan boneka panda diharapkan ibu akan menjadi stimulus dominan. Jika ibu menjadi stimulus dominan, reaksi anak terhadap kombinasi ibu-boneka itu akan berupa relaksasi. Setelah reaksi relaksasi muncul ketika ada boneka panda, maka boneka itu dapat dihadirkan sendirian, dan akan muncul relaksasi dalam diri anak. a. Membelokkan Kebiasaan Ada perbedaan antara memutus kebiasaan dengan membelokkan kebiasaan. Membelokkan kebiasaan dilakukan dengan menghindari petujnjuk yang menimbulkan perilaku yang tak diinginkan. Jika anda mengumpulkan sejumlah besar pola perilaku tak efektif atau menyebabkan kecemasan, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah meningkatkan situasi itu. Guthrie menyarankan agar anda pergi kesuatu lingkungan baru yang memberi anda kesegaran baru karena anda tidak punya banyak asosiasi dengan lingkungan baru itu. Pergi kelingkungan baru akan membuat anda legah dan bisa mengembangkan pola perilaku yang baru. Tetapi ini hanyalah pelarian parsial karena banyak stimuli yang menyebabkan perilaku yang tak diinginkan adalah stimuli internal anda, dan anda karenanya akan membawa stimuli itu ke lingkungan yang baru. Juga stimuli dalam lingkungan baru yang identik atau mirip dengan stimuli di lingkungan lama akan cenderung menimbulkan respon yang sebelumnya di kaitkan dengannya. b. Hukuman Menurut Guthrie Hukuman berlaku efektif apabila di terapkan di kondisi yang tepat misalnya pada saat tanda-tanda perilaku (respon) yang negative (tidak di inginkan) muncul. Efektifitas hukuman hendaknya di dasari oleh alasan bahwa hukuman tersebut diberlakukan agar individu mampu menemukan atau melakukan respon yang benar atas respon stimuli yang diberikan. Guthrie mengatakan efektivitas punishment (hukuman) ditentukan oleh apa penyebab tindakan yang dilakukan oleh organisme yang dihukum itu. Hukuman bekerja baik bukan karena rasa sakit yang dialami oleh individu terhukum, tetapi karena hukuman mengubah cara individu merespons stimuli tertentu. Hukuman akan efektif jika menghasilkan respons baru terhadap stimuli yang sama. Hukuman berhasil mengubah perilaku yang tidak diinginkan karena hukuman menimbulkan perilaku yang tidak kompitabel dengan perilaku yang dihukum. Hukuman akan gagal jika perilaku yang disebabkan oleh hukuman selaras dengan perilaku yang dihukum. Terdapat empat prinsip yang perlu diperhatikan dalam hal dukungan (punishment) yakni : 1) Hukuman bukan berupa suatu yang menyakitkan akan tetapi suatu yang mendorong organisme atau melakukan sesuatu. 2) Hukuman tersebut harus menyebabkan atau mengubah perilaku yang tidak sesuai dengan perilaku terhukum. 3) Hukuman harus diterapkan dengan adanya stimuli yang diperoleh dari perilaku terhukum. 4) Jika kondisi pertama, kedua dan ketiga tidak dijumpai maka hukuman tidak akan berlaku efektif atau bahkan mungkin memperkuat respon yang tidak di inginkan. Jadi, ketika hukuman menjadi efektif, hal ini mengakibatkan organisme melakukan hal-hal lain selain dari hal yang dihukum, meskipun stimuli yang diperoleh perilaku yang dihukum tetap ada. Tentu saja respon ini mengakibatkan asosiasi baru (hubungan baru) dan ketika stimuli-stimuli itu muncul lagi di waktu yang lain, mereka cenderung akan menimbulkan respon yang bisa diterima. c. Dorongan Menurut Guthrie Drives (dorongan) fisiologis merupakan apa yang oleh Guthrie dikatakan maintaining stimuli (stimuli yang mempertahankan) yang menjaga organisme tetap aktif sampai tujuan tercapai. Misalnya, rasa lapar menghasilkan stimuli internal yang terus ada sampai makanan dikonsumsi. Ketika makan diperoleh, maintaining stimuli akan hilang, dan karenanya kondisi yang menstimulasi telah berubah. Disini Guthrie kembali menjelaskan bahwa kebiasaan menggunakan alkohol dan narkoba dengan cara serupa. Misalnya, seorang merasakan ketegangan atau gelisah. Dalam kasus ini ketegangan dan kegelisahan itulah yang menjadi maintaining stimuli. Jika dalam situasi ini, orang ini minum satu atau dua gelas, ketegangannya atau kegelisahannya berkurang. Menurut Guthrie, hasil ini memantapkan hubungan antara kegelisahan dengan minum. Karenanya, ketika di lain waktu orang merasa tegang dan gelisah, dia akan cenderung minum lagi. Secara bertahap kegelisahan akan menimbulkan dorongan untuk memakai narkoba atau minuman keras akan muncul diberbagai situasi dan berubah menjadi kecanduan. d. Niat Menurut Guthrie Respons yang dikondisikan ke maintaining stimuli dinamakan intentions (niat). Respons tersebut dinamakan niat karena maintaining stimuli dari dorongan biasanya berlangsung selama periode waktu tertentu (sampai dorongan berkurang). Gambarannya, ketika seseorang lapar dan ada roti di dalam kantor, dia akan memakannya. Tetapi jika dia lupa membawa bekal makan siang, dia akan berdiri dari kursi, mengenakan jaket, mencari restoran, masuk restoran, memesan makanan dan seterusnya. Perilaku yang dipicu oleh maintaining stimuli inilah yang tampak purposive atau intensional (diniatkan), namun Guthrie menganggap itu juga bisa dijelaskan dengan hukum kontiguitas. e. Transfer Training Gutrhrie dalam hal ini tidak terlalu mengharapkan adanya transfer taining. Karena pada dasarnya seseorang akan menunjukkan respons yang sesuai dengan stimuli jika pada kondisi yang sama. Guthrie selalu mengatakan pada mahasiswa universitasnya, jika anda ingin mendapat manfaat terbesar dari studi anda, anda harus berlatih dalam situasi yang persis sama-dalam kursi yang sama-di mana anda akan diuji. Jika anda belajar sesuatu di kamar, tidak ada jaminan pengetahuan yang diperoleh disitu akan ditransfer ke kelas. Saran Guthrie adalah selalu mempraktikkan perilaku yang persis sama yang akan diminta kita lakukan nanti, selain itu, kita harus melatihnya dalam kondisi yang persis sama dengan kondisi ketika nanti kita diuji. Gagasan mengenai pemahaman, wawasan dan pemikiran hanya sedikit, atau tidak ada maknanya bagi Guthrie. Satu-satunya hukum belajar adalah hukum kontiguitas, yang menyatakan bahwa ketika dua kejadian terjadi bersamaan, keduanya akan dipelajari. Semua proses belajar, entah itu pada manusia atau nonmanusia, ada dalam hukum kontiguitas dan prinsip-prinsip yang terkait dengannya. Tidak ada referensi ke kejadian kesadaran dalam teori Guthrie, dan juga tidak perhatian pada nilai survival dari perilaku yang dipelajari. Menurut Guthrie, respons yang keliru bisa dipelajari semudah mempelajari respons yang benar, dan akusisi keduanya dijelaskan dengan hukum belajar yang sama. 4. Formalisasi Teori Guthrie Oleh Voeks Dalam pernyataan ulang Voeks atas teori Guthrie ada 4 postulat dasar, 8 definisi dan 8 teorema. Postulat itu berusaha meringkaskan banyak prinsip belajar umum dari Guthrie, sedang definisinya berusaha menjelaskan beberapa konsep Guthriean (seperti stimulus, petunjukn, respon dan belajar), teoremanya adalah deduksi dari postulat dan definisi yang dapat di uji secara eksperimental. Voeks menguji sejumlah deduksi dan menemukan sejumlah bukti yang mendukung teorti Guthrie. Sebagaian besar formalisasi Voeks atas teori Guthrie dan riset yang dihasilkannya, terlalu komplek untuk dipaparkan disini. Tetapi 4 postulat Voeks sudah cukup meringkaskan dan menjadi contoh dari formalisasi dari teori Guthrie yng dilakukannya. a. Postulat I : Prinsiple of association, (a) setiap pola stimulus yang pernah mengirimi satu respon, dan atau muncul lebih awal setelah detik atau kurang, akan menjadi petunjuk langsung yang kuat untuk respon itu. (b) ini adalah salah satunya cara di mana pola stimulus yang bukan petunjuk untuk respon tertentu menjadi petunjuk langsung untuk respon itu (Voeks, 1950, h.342). b. Postulat II : Prinsiple of Postremity, (a) suatu stimulus yang mengiringi atau mendahului dua atau lebih respon yang tidak kompatibel adalah stimulus yang dikondisikan hanya untuk respon terakhir yang diberi saat stimulus itu masih ada. (b) ini adalah satu-satunya cara dimana stimulus yang merupakan petunjuk untuk respon tertentu kini tidak lagi menjadi petunjuk bagi respon itu (Voeks, 1950, h.344). c. Postulat III : Prinsiple of Response Probability : Probabilitas dari kejadian respon tertentu pada waktu tertentu merupakan suatu fungsi dari proporsi kehadiran stimuli yang adalah petunjuk bagi respon pada waktu itu. (Voeks, 1950, h.348). d. Postulah IV : Prinsiple of Dynamic Situations. Pola stimulus dari suatu situasi tidaklah statis tetapi dimodifikasi dari waktu kewaktu karena ada perubahan dari respon yang diberikan subjek, akumulasi kelelahan, perubahan reaksi dan proses internal lainnya didalam subjek, serta karena hadirnya variasi terkontrol dan tak terkontrol dalam stimuli yang ada saat itu (Voeks,1950, h.350). Teori belajar Guthrie adalah teori yang memberi basis untuk model matematika untuk teori belajar awal dan masih tetap berada di jantung dari sebagian besar teori belajar modern. 5. Pendapat Guthrie Tentang Pendidikan Seperti halnya Thorndike, Guthrie menyarankan proses pendidikan dimulai dengan menyatakan tujuan, yakni menyatakan respons apa yang harus dibuat untuk stimuli. Dia menyarankan lingkungan belajar yang akan memunculkan respons yang diinginkan bersama dengan adanya stimuli yang akan diletakkan padanya. Jadi motivasi dianggap tidak terlalu penting, yang diperlukan adalah siswa mesti merespons dengan tepat dalam kehadiran stimuli tertentu. Latihan (praktik) adalah penting karena ia menimbulkan lebih banyak stimuli untuk menghasilkan perilaku yang diinginkan karena setiap pengalaman adalah unik, seseorang harus “belajar ulang” berkali-kali. Guthtrie mengatakan bahwa belajar 2 ditambah 2 di papan tulis tidak menjamin siswa bisa 2 ditambah 2 ketika dibangku. Karena memungkinkan siswa akan belajar meletakkan respons pada setiap stimuli (di dalam atau di luar kelas). Mengasosiasikan rangsangan dan respons secara tepat merupakan inti dari teori belajar yang dibangun oleh Guthrie. Untuk penerapan teori ini dalam proses belajar mengajar di kelas. Guthrie memberikan beberapa saran bagi guru : a. Guru harus dapat mengarahkan performa siswa akan menjadi apa ketika mempelajari sesuatu. Dengan kata lain , apakah stimuli yang ada dalam buku atau pelajaran yang menyebabkan siswa melakukan belajar. b. Oleh karena itu, jika siswa mencatat atau membaca buku secara sederhana mereka dapat mengingat lebih banyak informasi. Maka dalam hal ini buku akan menjadi stimuli yang dapat digunakan sebagai perangsang untuk menghafal pelajaran. c. Dalam mengelola kelas, guru dianjurkan untuk tidak memberikan perintah yang secara langsung akan menyebabkan siswa menjadi tidak taat terhadap peraturan kelas. Misalnya permintaan guru agar siswa tenang jika diikuti oleh kegaduhan dalam kelas akan menjadi tanda (memunculkan stimuli) bagi munculnya perilaku distruptif. 6. Evaluasi Teori Guthrie a. Kontribusi Guthrie adalah unik dalam penegasannya bahwa belajar berasal dari kontinguitas antara stimuli dan respon dan kontiguitas saja. Bahkan pengulas teori belajar awal (Mueller & Schoenfeld,1954) menunjukkan pendekatan kontinguitas Guthrie yang sederhana dapat menjelaskan semua fenomena dasar yang di analisis oleh Skinner atau Hull. Teori Guthrie amat menarik banyak ilmuwan karena teorinya dapat menyelaskan proses belajar, penyelapan dan generelisasi, dengan analisis sederhana sedangkan teori lain menjelaskan hal-hal tersebut dengan cara yang lebih rumit. Selain itu perluasan teori ini keaplikasi praktis bersifat langsung dan dijelaskan oleh Guthrie dengan cara yang menyenangkan dan penuh contoh bukan dengan rumusan-rumusan terapi yang kering. Meskipun Teori Guthrie tidak memunculkan banyak riset dan kontroversi sebagaimana teori skinner dan Hull, namun teorinya menyediakan penjelasan alternatif yang penting mengenai belajar. Selain itu teorinya berfungsi sebagai pengingat bahwa suatu teori tidak harus sangat ruwet untuk menjelaskan perilaku yang kompleks. Seperti kita lihat pada Bab selajutnya William K Estes mampu menyusun teori yang berbeda yang berpengaruh hingga 1990an dengan menggunakan unsur-unsur dasar pandangan Guthrie. b. Kritik Ada daya tarik substansial didalam pandangan yang dapat menjelaskan belajar penghindaran, belajar imbalan, penyelapan dan lupa dengan prinsip yang sama. Tetapi, kemudahan penjelasan inilah yang menyebabkan para ilmuwan merasa tidak nyaman terhadap pandangan Guthrie. Berdasarkan pendapat Popper yang prihatin dengan teori-teori yang tampaknya dapat menjelaskan segala sesuatu, kita mencatat bahwa ada situasi dimana ada situasi dimana pendapat Guthrie menjadi ambigu dan terlalu pengampangkan penjelasan terlalu banyak fenomena (Mueller & Schoenfeld,1954). Mueller & Schoenfeld (1954) juga menunjukkan bahwa meskipun Guthrie mengkritik metodelogi ekperimental yang buruk dan bahasa yang ambigu didalam teori lain, namun dia tidak menetapkan standar ini ke dalam teorinya sendiri. Eksperimen (Guthrie & Horrton) yang disajikan dalam bukti teori, adalah contoh yang dikritik Mueller & Schoenfeld. Moore & Stuttard (1979) menunjukkan bahwa, seperti keluarga kucing lainnya termasuk kucing peliharaan, kucing dalam eksperimen Guthie dan horrton melakukan perilaku mengosok dan mengendus yang bersifat naluriah dan biasanya dilakukan saat kucing menyambut kucing lain yang dikenalinya atau manusia yang dikenalinya mereka mengamati bahwa kucing menunjukkan perilaku stereotip yang konsisten seperti yang dilaporkan oleh Horton dan Guthrie (1946) bahkan ketika tindakan mengosok-gosokan badanya ketuas tidak menghasilkan penguatan dan perubahan dalam kondisi stimuli apapun. C. KESIMPULAN Hukum belajar yang dikemukakan oleh Guthrie adalah hukum kontiguitas (law of contiguity). Gutrie menganggap, penguatan mengubah kondisi yang menstimulasi, dan karenanya mencegah terjadinya nonlearning. Hukuman berhasil mengubah perilaku yang tidak diinginkan karena hukuman menimbulkan perilaku yang tidak kompitabel dengan perilaku yang dihukum. Hukuman akan gagal jika perilaku yang disebabkan oleh hukuman selaras dengan perilaku yang dihukum. Seperti halnya Thorndike, Guthrie menyarankan proses pendidikan dimulai dengan menyatakan tujuan, yakni menyatakan respons apa yang harus dibuat untuk stimuli. Dia menyarankan lingkungan belajar yang akan memunculkan respons yang diinginkan bersama dengan adanya stimuli yang akan diletakkan padanya. Jadi motivasi dianggap tidak terlalu penting, yang diperlukan adalah siswa mesti merespons dengan tepat dalam kehadiran stimuli tertentu. D. DAFTAR RUJUKAN B.R Hergenhahn & Mattew H. Olson. 2008. Theories of Learning, Edisi Ketujuh. Jakarta : Kencana Prenada Media Group Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instruction: Teory dan Aplikasi Edisi keenam. Jakarta: KencanaPrenada Media Group Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology:Theory and Practice. Sixth Edition. Boston. Allyn and bacon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar