Minggu, 08 Mei 2016

 Makalah

IMPLEMENTASI KURIKULUM HUMANISME DI SMPN 07 BUKITTINGGI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Matakuliah Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum






Oleh:
ADRIZAL
15155014
Dosen Pembimbing :
Prof. Muhammad Anshyar M. Ed. M.Pd.
Dr. Darmansyah M.Pd.



PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN (S2) PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kurikulum merupakan salah satu bagian penting terjadinya suatu proses pendidikan. Karena suatu pendidikan tanpa adanya kurikulum akan kelihatan amburadul dan tidak teratur. Hal ini akan menimbulkan perubahan dalam perkembangan kurikulum, khususnya di Indonesia.
Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dan sekaligus digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pada berbagai jenis dan tingkat sekolah. Kurikulum menjadi dasar dan cermin falsafah pandangan hidup suatu bangsa, akan diarahkan kemana dan bagaimana bentuk kehidupan bangsa ini di masa depan, semua itu ditentukan dan digambarkan dalam suatu kurikulum pendidikan. Kurikulum haruslah dinamis dan terus berkembang untuk menyesuaikan berbagai perkembangan yang terjadi pada masyarakat dunia dan haruslah menetapkan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Sejak isu reformasi pendidikan digulirkan, maka banyak bermunculan gagasan-gagasan pembaharuan pendidikan. Reformasi sebagai sebuah gerakan yang memiliki perspektif sejarah politik monumental, karena era reformasi menjadi era pemerintahan substitusi pemerintahan orde baru. Tentunya gagasan reformasi pendidikan ini memiliki momentum yang amat mendasar dan berbeda dengan gagasan yang sama pada era sebelumnya.
Seiring perubahan zaman dan kemajuan dan kemajuan sistem pembelajaran, seiring dengan itu pula kurikulum di Indonesia mengalami perubahan. Banyak hal yang mendalangi perubahan kurikulum ini, mulai dari terlalu banyaknya materi sehinga di nilai terlalu membebani siswa, atau tidak sesuainy materi dengan tingkat pendidikan peserta didik.
Seiring dengan usaha pemerintah untuk memperbaiki kurikulum maka bermunculan permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa, guru serta pelaksana kurikulum itu sendiri diantaranya pemahaman guru siswa serta orangtua murid terhadap kurikulum yang dipakai, kemampuan atau skill guru terhadap kurikulum yan dipakainya serta fasilitas yang tersedia di sekolah hal ini menyebabkan kurikulum tidak berjalan dengan baik sehingga tidak tercapai tujuan kurikulum yang semestinya.
Rumusan  Masalah
1.      Pengertian kurikulum
2.      Macam-macam kurikulum
3.      Prinsip Kurikulum
4.      Permasalahan pelaksanaan kurikulum di Sekolah













BAB II
A.    PEMBAHASAN
1.     Pengertian Kurikulum
Secara etimologi, kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”. Itu berarti istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Yunani Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai finish, kemudian di gunakan oleh dunia pendidikan..
Secara terminologi, istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai tingkatan tertentu secara formal dan dapat dipertanggung jawabkan. Para ahli mengartikan kurikulum itu yaitu:
1.      Menurut Nasution, “Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.”
2.      Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.
3.      Menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
Jadi, kurikulum itu merupakan suatu usaha terencana dan terorganisir untuk menciptakan suatu pengalaman belajar pada siswa dibawah tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian kurikulum secara luas tidak hanya berupa mata pelajaran atau kegiatan-kegiatan belajar siswa saja tetapi segala hal yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak sesuai dengan tujuan   pendidikan yang diharapkan.
2.      Macam-Macam Kurikulum
a.       Rencana Pelajaran 1947
b.      Rencana Pelajaran Terurai 1952
c.       Kurikulum 1968
d.      Kurikulum 1975
e.       Kurikulum 1984
f.       Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
g.      Kurikulum 2004
h.      KTSP 2006
i.        K13 2014

4.      Penerapan Kurikulum di Sekolah
Sebuah kelas tidak boleh sekedar diartikan sebagai tempat siswa berkumpul untuk mempelajari sejumlah ilmu pengetahuan. Demikian juga sebuah sekolah bukanlah sekedar sebuah gedung tempat murid mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Sekolah dan kelas diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mendidik anak-anak, yang tidak hanya harus didewasakan dari aspek intelektualnya saja, akan tetapi dalam seluruh aspek kepribadiannya. Untuk itu bagi setiap tingkat dan jenis sekolah diperlukan kurikulum yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dalam perkembangannya.
Kurikulum yang dipergunakan di sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas kelas dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang berdaya guna bagi pembentukan pribadi siswa. Dengan kata lain aktivitas sebuah kelas sangat dipengaruhi oleh kurikulum yang dipergunakan di sekolah. Suatu kelas akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat apabila kurikulum yang dipergunakan di sekolah dirancangkan sesuai dengan dinamika masyarakat. Sekolah yang kurikulumnya dirancangkan secara tradisional akan mengakibatkan aktivitas kelas berlangsung secara statis. Kurikulum tradisional diartikan sebga sejumlah materi pengetahuan dan kebudayaan hasil masa lalu yang harus dikuasai murid untuk mencapai suatu tingkat tertentu, yang dinyatakan dengan ketentuan kenaikan kelas atau pemberian ijazah kepada murid tersebut.
Di dalam kurikulum seperti itu mata pelajaran diberikan secara terpisah-pisah (subject certerd curriculum yang pada umumnya bersifat intelektualistis. Sekolah yang diselenggarkan dengan kurikulum modern pada dasarnya akan mampu menyelenggarakan kegiatan kelas yang bersifat dinamis. Kurikulum modern diartikan sebagai semua kegiatan yang berpengaruh pada pembentukan pribadi murid, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas/sekolah, termasuk di dalamnya lingkungan sekitar yang bersifat non edukatif seperti warung sekolah, pesuruh, kondisi bangunan dan sarana sekolah lainnya, tempat ibadah dan lain-lain. Kedua kurikulum tersebut di atas kurang serasi dengan kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki pandangan hidup Pancasila. Di satu pihak kurikulum tradisional yang berpusat pada guru akan diwarnai dengan sikap otoriter yang mematikan inisiatif dan kreativitas murid.
Kurikulum itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan pembentukan pribadi berdasarkan minat, bakat, kemampuan dan sifat-sifat kepribadian yang berbeda-beda. Antara murid yang satu dengan murid yang lain dalam satu kelas. Segala sesuatu yang menyangkut isi kurikulum untuk dilaksanakan di kelas sudah diatur dan ditetapkan oleh pihak instansi atasan, yang bahkan menutup kemungkinan guru mengembangkan kegiatan berdasarkan inisiatif dan krativitasnya sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan masyarakat sekitar. Dipihak lain kurikulum modern yang menekankan pada perkembangan individu secara maksimal, akan mencerminkan kebebasan atas dasar demokrasi liberal sehingga tidak memungkinkan diselenggarakannya secara efektif kegiatan belajar secara klasikal untuk pengembangan pribadi sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan Yang maha Esa.
Oleh karena itu diperlukan usaha mengintegrasikan kedua kurikulum tersebut dalam kehidupan lembaga pendidikan formal di Indonesia agar serasi dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat. Namun kenyataan di sekolah-sekolah kebanyakan guru menggunakan cara atau metode kurikulum tradisional meskipun kontennya sudah menggunakan kurikulum baru, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan guru tentang kurikulum yang baru sehingga kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berpusat pada guru meskipun kurikulum baru telah menuntut siswa aktif (student center) yang menekankan pada pengalaman siswa (learning experience).
Selain itu permasalahanya adalah kurangnya pengetahuan guru dalam mengunakan fasilitas dan media. Hal ini menyebabkan guru miskin inspirasi dalam menggunakan atau merancang media pembelajaran sehingga menurunkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran sehingga kurikulum tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Disisi lain keterampilan guru dalam membimbing siswa untuk berdiskusi serta bekerjasama menyampaikan pendapat sangat kurang sehingga siswa tidak terampil dalam bekerjasama, berinteraksi, menyampaikan pendapat dengan teman sekelas. Ini menyebabkan siswa terbiasa untuk belajar pasif dalam menerima pelajaran yang disampaikan guru.
Beberapa hal tersebut diatas seringkali ditemukan di sekolah-sekolah sehingga pembelajaran disekolah tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum karena keterbatasan guru dalam memahami kurikulum yang baru serta pengetahuan guru tentang merancang serta menggunakan media pembelajaran hal ini dijumpai di berbagai jenjang pendidikan terutama di daerah yang jauh dari jangkauan teknologi informasi. 
Sementara disisi lain kurikulum harus dirancang sebagai sejumlah pengalaman edukatif yang menjadi tanggungjawab sekolah dalam membantu anak-anak mencapai tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana, sistematik dan terarah serta terorganisir. Sekolah yang dirancang dengan kurikulum seperti itu, memungkinkan kegiatan kelas tidak sekedar dipusatkan pada penyampaian sejumlah materi pelajaran/pengetahuan yang bersifat intellectualistic, akan tetapi juga memperhatikan aspek pembentukan pribadi, baik sebagai makhluk individual dan makhluk sosial maupun sebagai makhluk bermoral.
Dengan kurikulum seperti disebutkan terakhir berarti isi pendidikan di dalam kegiatan kelas untuk setiap jenjang/tingkat sekolah harus dirancangkan sebagai berikut:
1.      Tingkat Taman Kanak-Kanak Kurikulum pada tingkat ini harus dirancang untuk memungkinkan kelas menyelenggarakan kegiatan agar anak-anak belajar bergaul, belajar mempergunakan alat-alat yang sederhana, memperoleh ketrampilan dasar atau tingkat permulaan dan dapat bekerja sama dalam bermain walaupun pada tingkat ini kecenderungan dalam bermain masih bersifat individual.
2.      Tingkat Sekolah Dasar Kurikulum pada tingkat ini pada tahap permulaan atau kelas-kelas rendah harus dirancangkan untuk memungkinkan kelas melanjutkan kegiatan-kegiatan atau program-program di taman kanak-kanak. Selanjutnya sesuai dengan kematangan anak-anak, secara bertahap kurikulum harus dengan kematangan anak-anak, secara bertahap kurikulum harus dikembangkan juga untuk mempelajari fakta-fakta pengetahuan yang sederhana, pengembangan kebiasaan berpikir secara kreatif dan pembentukan watak berdasarkan sistem nilai-nilai tertentu. Untuk itu dapat dilaksanakan berbagai kegiatan kelas baik yang dilakukan secara individual maupun secara bersama-sama.
3.      Sekolah Lanjutan/menengah Kurikulum pada tingkat ini harus dirancangkan untuk memungkinkan diselenggarakannya kegiatan kelas dalam memenuhi kebutuhan melakukan eksplorasi dan eksperimentasi guna memberikan pengalaman intelektual dan sosial yang terpadu dalam rangka realisasi diri.
4.      Tingkat Perguruan Tinggi Kurikulum pada tingkat ini dirancangkan untuk memungkinkan kelas menyelenggarakan kegiatan membantu perkembangan individual secara maksimal dalam rangka menguasai keahlian profesional tertentu.

Implementasi teori belajar di sekolah
Untuk menyikapi permasalahan di atas penulis tertarik mengimplementasikan teori belajar Fenomenologi/ Humanisme yang dikemukakan oleh Shunk (2012:351), teori humnistik termasuk constructivist, karena teori ini melibatkan  proses kognitif dan afektif dalam tingkah laku. Walau kita semua sama-sama memiliki aspek kognitif, afektif dan psikomotor, pada dasarnya, masing-masung kita berbeda satu sama lain. Berdasarkan itu, psikologi humanistik terkait kajian tentang keunikan, individualitas dan kemanusiaan tiap individu (Lefracois, 1988:125). Artinya, teori ini memadukan, kapabilitas dan potensi sehingga manusia bisa mandiri memilih dan  mengatur hidupnya.

Dengan demikian, kurikulum humanistik terkait proses, bukan produk; kebutuhan personal bukan mata pelajaran; makna psikologis bukan lingkungan yang telah dikondisi. Itulah sebabnya mengapa harus ada kebebasan belajar, bukan restriksi atas materi dan  kegiatan yang telah dirancang terlebih dahulu untuk dilakukan siswa. Apalagi, kondisi psikologis dan sosial lingkungan,  bisa membatasi atau mendorong cakupan lapangan atau ruang bagi pengembangan wawasan kehidupan siswa yang adalah faktor penting bagi keberhasilan kurikulum dan pembelajaran (Ornstein&Hunkins, 2013:119-20).
Menurut Lefrancois (1988), ada tiga label utama teori psikologi humanistik. Pertama, terapi terpusat pada orang (person-centered therapy/client-centered therapy) yang bermanfaat bagi konselor dalam memberikan bantuan pada siswa yang menghadapi masalah emosi dan tingkah laku yang bisa menghambat kemajuan pelajaran. Tetapi, tugas guru konselor bukan mendikte siswa apa yang akan dilakukannya untuk  memecahkan masalah siswa, tetapi memfasilitasi siswa agar  memahami sendiri masalah yang dihadapinya sehingga membuka jalan bagi siswa   mengidentifikasi masalah  dan bereaksi atas masalah itu sebelum ia mengambil langkah pemecahan masalah dirinya.  Kedua, fenomenologi sebagai suatu istilah yang merujuk pada dunia nyata seperti yang dipersepsi tiap individu, bukan dunia yang sebenarnya. Teori Rogers (1951) adalah fenomenologis karena  terkait pandangan individu siswa tentang fakta yang ada – dunia nyata seperti dipandang individu siswa bersangkutan - bukan dunia  seperti dipandang orang lain. Dan  ketiga, filsafat dan psikologi humansime, secara historis, berkaitan dengan martabat manusia, individualitas, kemanusiaan dan hak individu  untuk menentukan sendiri tingkah lakunya masing-masing  (Lefrancois,1988:126).
Dengan mengusung kurikulum humanisme siswa mendapat kebebasan dalam belajar berinteraksi dengan guru sebagai fasilitator ataupun konselor mereka juga kebebasan untuk berinteraksi dengan teman sekelas untuk menyampaikan pendapat argumen serta menanggapi pendapat temanya. Sehingga siswa dapat menembangkan kemampuan diri mereka. Selain itu mereka juga dituntut untuk mengenali masalah serta mencarikan jawaban dari masalah yang  mereka temukan tersebut  secara nyata.
Di sini juga dituntut keterampilan guru dalam membimbing siswa dalam belajar, berdiskusi menemukan masalah mereka serta membimbing mereka mencarikan jawaban dari permasalahan yang mereka temukan, serta menciptakan ketertarikan siswa dalam belajar dengan mengemas atau memilih strategi pembelajaran juga merancang media pembelajaran yang interaktif sehingga mampu menciptakan suasana belajar mendiri siswa.



















BAB III
KESIMPULAN
1.      Kesimpulan
Kurikulum adalah sejumlah rencana isi yang merupakan sejumlah tahapan belajar yang di desain untuk siswa dengan petunjuk institusi pendidikan yang berupa proses yang statis ataupun dinamis dan kompetensi yang harus dimiliki. Kurikulum adalah seluruh pengalaman di bawah bimbingan dan arahan dari institusi pendidikan yang membawa ke dalam kondisi belajar.
Kurikulum mempunyai komponen-komponen yang mempunyai tujuan utama atau tujuan dari kurikulum tersebut. Karena komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan menunjang untuk mencapai tujuan dari kurikulum maka di sebutlah kurikulum sebagai suatu sistem.
Pengembangan kurikulum haruslah memperhatikan prinsip-prinsip kurikulumnya yang terdiri dari tujuh prinsip pengembangan kurikulum antara lain : relevansi, efektivitas, efisiensi, fleksibilitas, kontinuitas, objektifitas dan demokrasi.
2.     Saran
Kebutuhan pendidikan kini semakin kompleks, begitu pula dengan kebutuhan kurikulum yang ada juga semakin berkembang, maka disarankan agar tiap sekolah atau lembaga pendidikan menerapkan suatu sistem kurikulum yang sesuai dengan keadaan lingkungan sekolahnya,selain itu pemerintah juga diharapkan lebih intensif memberikan pelatihan terhadap kurikulum baru agar pelaksana kurikulum mendapat bekal yg cukup dalam menerapkan kurikulum di sekolah mereka. Pihak pengembang kurikulum diharapkan mengembagkan kurikulum sesuai dengan potensi daerahnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Lefrancois, Guy R. 1988. Psychology for Teaching. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.
Mulyasa. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Di adopsi dan di adaptasi dari situs: http://smartkanza.blogspot.com/2011/02 /makalah-penerapan-kurikulum-agama-islam.html pada tgl 28 Februari 2014
Di adopsi dan di adaptasi dari situs: http://saputrasamawa.blogspot.com/2013/ 01/penerapan-kurikulum.html pada tgl 28 Februari 2014
Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories: An Educational Perspectives. Boston: Pearson.
Susilo, Muhammad Joko. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar