Makalah
IMPLEMENTASI
KURIKULUM HUMANISME DI SMPN 07 BUKITTINGGI
Diajukan
Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Matakuliah Dasar-Dasar Pengembangan
Kurikulum

Oleh:
ADRIZAL
15155014
Dosen
Pembimbing :
Prof.
Muhammad Anshyar M. Ed. M.Pd.
Dr.
Darmansyah M.Pd.
PROGRAM
STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN (S2) PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum
merupakan salah satu bagian penting terjadinya suatu proses pendidikan. Karena
suatu pendidikan tanpa adanya kurikulum akan kelihatan amburadul dan tidak
teratur. Hal ini akan menimbulkan perubahan dalam perkembangan kurikulum,
khususnya di Indonesia.
Kurikulum
merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dan sekaligus
digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pada
berbagai jenis dan tingkat sekolah. Kurikulum menjadi dasar dan cermin falsafah
pandangan hidup suatu bangsa, akan diarahkan kemana dan bagaimana bentuk
kehidupan bangsa ini di masa depan, semua itu ditentukan dan digambarkan dalam
suatu kurikulum pendidikan. Kurikulum haruslah dinamis dan terus berkembang
untuk menyesuaikan berbagai perkembangan yang terjadi pada masyarakat dunia dan
haruslah menetapkan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Sejak
isu reformasi pendidikan digulirkan, maka banyak bermunculan gagasan-gagasan
pembaharuan pendidikan. Reformasi sebagai sebuah gerakan yang memiliki perspektif
sejarah politik monumental, karena era reformasi menjadi era pemerintahan
substitusi pemerintahan orde baru. Tentunya gagasan reformasi pendidikan ini
memiliki momentum yang amat mendasar dan berbeda dengan gagasan yang sama pada
era sebelumnya.
Seiring
perubahan zaman dan kemajuan dan kemajuan sistem pembelajaran, seiring dengan
itu pula kurikulum di Indonesia mengalami perubahan. Banyak hal yang mendalangi
perubahan kurikulum ini, mulai dari terlalu banyaknya materi sehinga di nilai
terlalu membebani siswa, atau tidak sesuainy materi dengan tingkat pendidikan
peserta didik.
Seiring
dengan usaha pemerintah untuk memperbaiki kurikulum maka bermunculan
permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa, guru serta pelaksana kurikulum
itu sendiri diantaranya pemahaman guru siswa serta orangtua murid terhadap
kurikulum yang dipakai, kemampuan atau skill guru terhadap kurikulum yan
dipakainya serta fasilitas yang tersedia di sekolah hal ini menyebabkan
kurikulum tidak berjalan dengan baik sehingga tidak tercapai tujuan kurikulum
yang semestinya.
Rumusan Masalah
1. Pengertian
kurikulum
2. Macam-macam
kurikulum
3. Prinsip
Kurikulum
4. Permasalahan
pelaksanaan kurikulum di Sekolah
BAB
II
A. PEMBAHASAN
1. Pengertian Kurikulum
Secara
etimologi, kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani, yaitu
curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”. Itu
berarti istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Yunani Kuno
di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh
pelari dari garis start sampai finish, kemudian di gunakan oleh dunia
pendidikan..
Secara
terminologi, istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu sejumlah
pengetahuan atau kemampuan yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna
mencapai tingkatan tertentu secara formal dan dapat dipertanggung jawabkan.
Para ahli mengartikan kurikulum itu yaitu:
1. Menurut
Nasution, “Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses
belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga
pendidikan beserta staf pengajarnya.”
2. Menurut
Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out-
comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.
3. Menurut
Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam
praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau
jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang
dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh
program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
Jadi,
kurikulum itu merupakan suatu usaha terencana dan terorganisir untuk
menciptakan suatu pengalaman belajar pada siswa dibawah tanggung jawab sekolah
atau lembaga pendidikan untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian kurikulum
secara luas tidak hanya berupa mata pelajaran atau kegiatan-kegiatan belajar
siswa saja tetapi segala hal yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak
sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
2. Macam-Macam
Kurikulum
a. Rencana
Pelajaran 1947
b. Rencana
Pelajaran Terurai 1952
c. Kurikulum
1968
d. Kurikulum
1975
e. Kurikulum
1984
f. Kurikulum
1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
g. Kurikulum
2004
h. KTSP
2006
i. K13
2014
4. Penerapan
Kurikulum di Sekolah
Sebuah
kelas tidak boleh sekedar diartikan sebagai tempat siswa berkumpul untuk
mempelajari sejumlah ilmu pengetahuan. Demikian juga sebuah sekolah bukanlah
sekedar sebuah gedung tempat murid mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan.
Sekolah dan kelas diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam
mendidik anak-anak, yang tidak hanya harus didewasakan dari aspek
intelektualnya saja, akan tetapi dalam seluruh aspek kepribadiannya. Untuk itu
bagi setiap tingkat dan jenis sekolah diperlukan kurikulum yang mampu memenuhi
kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dalam perkembangannya.
Kurikulum
yang dipergunakan di sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas kelas
dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang berdaya guna bagi pembentukan
pribadi siswa. Dengan kata lain aktivitas sebuah kelas sangat dipengaruhi oleh
kurikulum yang dipergunakan di sekolah. Suatu kelas akan mampu memenuhi
kebutuhan masyarakat apabila kurikulum yang dipergunakan di sekolah
dirancangkan sesuai dengan dinamika masyarakat. Sekolah yang kurikulumnya dirancangkan
secara tradisional akan mengakibatkan aktivitas kelas berlangsung secara
statis. Kurikulum tradisional diartikan sebga sejumlah materi pengetahuan dan
kebudayaan hasil masa lalu yang harus dikuasai murid untuk mencapai suatu
tingkat tertentu, yang dinyatakan dengan ketentuan kenaikan kelas atau
pemberian ijazah kepada murid tersebut.
Di
dalam kurikulum seperti itu mata pelajaran diberikan secara terpisah-pisah
(subject certerd curriculum yang pada umumnya bersifat intelektualistis.
Sekolah yang diselenggarkan dengan kurikulum modern pada dasarnya akan mampu
menyelenggarakan kegiatan kelas yang bersifat dinamis. Kurikulum modern
diartikan sebagai semua kegiatan yang berpengaruh pada pembentukan pribadi
murid, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas/sekolah, termasuk di
dalamnya lingkungan sekitar yang bersifat non edukatif seperti warung sekolah,
pesuruh, kondisi bangunan dan sarana sekolah lainnya, tempat ibadah dan
lain-lain. Kedua kurikulum tersebut di atas kurang serasi dengan kondisi
masyarakat Indonesia yang memiliki pandangan hidup Pancasila. Di satu pihak
kurikulum tradisional yang berpusat pada guru akan diwarnai dengan sikap
otoriter yang mematikan inisiatif dan kreativitas murid.
Kurikulum
itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan pembentukan pribadi berdasarkan minat,
bakat, kemampuan dan sifat-sifat kepribadian yang berbeda-beda. Antara murid
yang satu dengan murid yang lain dalam satu kelas. Segala sesuatu yang
menyangkut isi kurikulum untuk dilaksanakan di kelas sudah diatur dan
ditetapkan oleh pihak instansi atasan, yang bahkan menutup kemungkinan guru
mengembangkan kegiatan berdasarkan inisiatif dan krativitasnya sesuai dengan
kebutuhan anak-anak dan masyarakat sekitar. Dipihak lain kurikulum modern yang
menekankan pada perkembangan individu secara maksimal, akan mencerminkan
kebebasan atas dasar demokrasi liberal sehingga tidak memungkinkan
diselenggarakannya secara efektif kegiatan belajar secara klasikal untuk
pengembangan pribadi sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan Yang maha Esa.
Oleh
karena itu diperlukan usaha mengintegrasikan kedua kurikulum tersebut dalam
kehidupan lembaga pendidikan formal di Indonesia agar serasi dengan kebutuhan
dan dinamika masyarakat. Namun kenyataan di sekolah-sekolah kebanyakan guru
menggunakan cara atau metode kurikulum tradisional meskipun kontennya sudah
menggunakan kurikulum baru, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan guru
tentang kurikulum yang baru sehingga kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan
berpusat pada guru meskipun kurikulum baru telah menuntut siswa aktif (student
center) yang menekankan pada pengalaman siswa (learning experience).
Selain
itu permasalahanya adalah kurangnya pengetahuan guru dalam mengunakan fasilitas
dan media. Hal ini menyebabkan guru miskin inspirasi dalam menggunakan atau
merancang media pembelajaran sehingga menurunkan minat siswa dalam mengikuti
pelajaran sehingga kurikulum tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Disisi
lain keterampilan guru dalam membimbing siswa untuk berdiskusi serta
bekerjasama menyampaikan pendapat sangat kurang sehingga siswa tidak terampil
dalam bekerjasama, berinteraksi, menyampaikan pendapat dengan teman sekelas.
Ini menyebabkan siswa terbiasa untuk belajar pasif dalam menerima pelajaran
yang disampaikan guru.
Beberapa
hal tersebut diatas seringkali ditemukan di sekolah-sekolah sehingga
pembelajaran disekolah tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum karena
keterbatasan guru dalam memahami kurikulum yang baru serta pengetahuan guru
tentang merancang serta menggunakan media pembelajaran hal ini dijumpai di
berbagai jenjang pendidikan terutama di daerah yang jauh dari jangkauan
teknologi informasi.
Sementara
disisi lain kurikulum harus dirancang sebagai sejumlah pengalaman edukatif yang
menjadi tanggungjawab sekolah dalam membantu anak-anak mencapai tujuan
pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana, sistematik dan terarah
serta terorganisir. Sekolah yang dirancang dengan kurikulum seperti itu,
memungkinkan kegiatan kelas tidak sekedar dipusatkan pada penyampaian sejumlah
materi pelajaran/pengetahuan yang bersifat intellectualistic, akan tetapi juga
memperhatikan aspek pembentukan pribadi, baik sebagai makhluk individual dan
makhluk sosial maupun sebagai makhluk bermoral.
Dengan
kurikulum seperti disebutkan terakhir berarti isi pendidikan di dalam kegiatan
kelas untuk setiap jenjang/tingkat sekolah harus dirancangkan sebagai berikut:
1. Tingkat
Taman Kanak-Kanak Kurikulum pada tingkat ini harus dirancang untuk memungkinkan
kelas menyelenggarakan kegiatan agar anak-anak belajar bergaul, belajar
mempergunakan alat-alat yang sederhana, memperoleh ketrampilan dasar atau
tingkat permulaan dan dapat bekerja sama dalam bermain walaupun pada tingkat
ini kecenderungan dalam bermain masih bersifat individual.
2. Tingkat
Sekolah Dasar Kurikulum pada tingkat ini pada tahap permulaan atau kelas-kelas
rendah harus dirancangkan untuk memungkinkan kelas melanjutkan
kegiatan-kegiatan atau program-program di taman kanak-kanak. Selanjutnya sesuai
dengan kematangan anak-anak, secara bertahap kurikulum harus dengan kematangan
anak-anak, secara bertahap kurikulum harus dikembangkan juga untuk mempelajari
fakta-fakta pengetahuan yang sederhana, pengembangan kebiasaan berpikir secara
kreatif dan pembentukan watak berdasarkan sistem nilai-nilai tertentu. Untuk
itu dapat dilaksanakan berbagai kegiatan kelas baik yang dilakukan secara
individual maupun secara bersama-sama.
3. Sekolah
Lanjutan/menengah Kurikulum pada tingkat ini harus dirancangkan untuk
memungkinkan diselenggarakannya kegiatan kelas dalam memenuhi kebutuhan
melakukan eksplorasi dan eksperimentasi guna memberikan pengalaman intelektual
dan sosial yang terpadu dalam rangka realisasi diri.
4. Tingkat
Perguruan Tinggi Kurikulum pada tingkat ini dirancangkan untuk memungkinkan
kelas menyelenggarakan kegiatan membantu perkembangan individual secara
maksimal dalam rangka menguasai keahlian profesional tertentu.
Implementasi teori belajar di sekolah
Untuk
menyikapi permasalahan di atas penulis tertarik mengimplementasikan teori
belajar Fenomenologi/
Humanisme yang dikemukakan oleh Shunk (2012:351), teori
humnistik termasuk constructivist, karena teori
ini melibatkan proses kognitif dan afektif dalam tingkah laku. Walau kita
semua sama-sama memiliki aspek kognitif, afektif dan psikomotor, pada dasarnya,
masing-masung kita berbeda satu sama lain. Berdasarkan itu, psikologi
humanistik terkait kajian tentang keunikan, individualitas dan kemanusiaan tiap
individu (Lefracois, 1988:125). Artinya, teori ini memadukan, kapabilitas dan
potensi sehingga manusia bisa mandiri memilih dan mengatur hidupnya.
Dengan demikian, kurikulum humanistik terkait proses,
bukan produk; kebutuhan personal bukan mata pelajaran; makna psikologis bukan
lingkungan yang telah dikondisi. Itulah sebabnya mengapa harus ada kebebasan
belajar, bukan restriksi atas materi dan kegiatan yang telah dirancang
terlebih dahulu untuk dilakukan siswa. Apalagi, kondisi psikologis dan sosial lingkungan,
bisa membatasi atau mendorong cakupan lapangan atau ruang bagi pengembangan
wawasan kehidupan siswa yang adalah faktor penting bagi keberhasilan kurikulum
dan pembelajaran (Ornstein&Hunkins, 2013:119-20).
Menurut Lefrancois (1988), ada tiga label utama teori
psikologi humanistik. Pertama, terapi terpusat pada orang (person-centered
therapy/client-centered therapy) yang bermanfaat bagi konselor dalam
memberikan bantuan pada siswa yang menghadapi masalah emosi dan tingkah laku
yang bisa menghambat kemajuan pelajaran. Tetapi, tugas guru konselor bukan
mendikte siswa apa yang akan dilakukannya untuk memecahkan masalah siswa,
tetapi memfasilitasi siswa agar memahami sendiri masalah yang dihadapinya
sehingga membuka jalan bagi siswa mengidentifikasi masalah
dan bereaksi atas masalah itu sebelum ia mengambil langkah pemecahan masalah
dirinya. Kedua, fenomenologi sebagai suatu istilah yang
merujuk pada dunia nyata seperti yang dipersepsi tiap individu, bukan dunia
yang sebenarnya. Teori Rogers (1951) adalah fenomenologis karena terkait
pandangan individu siswa tentang fakta yang ada – dunia nyata seperti dipandang
individu siswa bersangkutan - bukan dunia seperti dipandang orang lain.
Dan ketiga, filsafat dan psikologi humansime, secara historis,
berkaitan dengan martabat manusia, individualitas, kemanusiaan dan hak
individu untuk menentukan sendiri tingkah lakunya masing-masing
(Lefrancois,1988:126).
Dengan mengusung kurikulum humanisme siswa mendapat
kebebasan dalam belajar berinteraksi dengan guru sebagai fasilitator ataupun
konselor mereka juga kebebasan untuk berinteraksi dengan teman sekelas untuk
menyampaikan pendapat argumen serta menanggapi pendapat temanya. Sehingga siswa
dapat menembangkan kemampuan diri mereka. Selain itu mereka juga dituntut untuk
mengenali masalah serta mencarikan jawaban dari masalah yang mereka
temukan tersebut secara nyata.
Di sini juga dituntut keterampilan guru dalam
membimbing siswa dalam belajar, berdiskusi menemukan masalah mereka serta
membimbing mereka mencarikan jawaban dari permasalahan yang mereka temukan,
serta menciptakan ketertarikan siswa dalam belajar dengan mengemas atau memilih
strategi pembelajaran juga merancang media pembelajaran yang interaktif
sehingga mampu menciptakan suasana belajar mendiri siswa.
BAB
III
KESIMPULAN
1. Kesimpulan
Kurikulum
adalah sejumlah rencana isi yang merupakan sejumlah tahapan belajar yang di
desain untuk siswa dengan petunjuk institusi pendidikan yang berupa proses yang
statis ataupun dinamis dan kompetensi yang harus dimiliki. Kurikulum adalah
seluruh pengalaman di bawah bimbingan dan arahan dari institusi pendidikan yang
membawa ke dalam kondisi belajar.
Kurikulum
mempunyai komponen-komponen yang mempunyai tujuan utama atau tujuan dari
kurikulum tersebut. Karena komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan
menunjang untuk mencapai tujuan dari kurikulum maka di sebutlah kurikulum
sebagai suatu sistem.
Pengembangan
kurikulum haruslah memperhatikan prinsip-prinsip kurikulumnya yang terdiri dari
tujuh prinsip pengembangan kurikulum antara lain : relevansi, efektivitas,
efisiensi, fleksibilitas, kontinuitas, objektifitas dan demokrasi.
2. Saran
Kebutuhan
pendidikan kini semakin kompleks, begitu pula dengan kebutuhan kurikulum yang
ada juga semakin berkembang, maka disarankan agar tiap sekolah atau lembaga
pendidikan menerapkan suatu sistem kurikulum yang sesuai dengan keadaan
lingkungan sekolahnya,selain itu pemerintah juga diharapkan lebih intensif
memberikan pelatihan terhadap kurikulum baru agar pelaksana kurikulum mendapat
bekal yg cukup dalam menerapkan kurikulum di sekolah mereka. Pihak pengembang
kurikulum diharapkan mengembagkan kurikulum sesuai dengan potensi daerahnya.
Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan
kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di
masyakarakat.
DAFTAR
PUSTAKA
Lefrancois, Guy R. 1988. Psychology
for Teaching. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.
Mulyasa.
2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Di adopsi dan di adaptasi dari situs: http://smartkanza.blogspot.com/2011/02
/makalah-penerapan-kurikulum-agama-islam.html pada tgl 28 Februari 2014
Di adopsi dan di adaptasi dari situs: http://saputrasamawa.blogspot.com/2013/
01/penerapan-kurikulum.html pada
tgl 28 Februari 2014
Susilo,
Muhammad Joko. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Manajemen
Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar